Veronica Tan: Cegah Pernikahan Dini, Orang Tua Harus Jadi Sahabat
- 13 Feb 2026 21:10 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, menegaskan pentingnya perubahan pola asuh dalam upaya mencegah pernikahan dini. Ia menilai pendekatan otoriter dan kemarahan tidak lagi efektif dalam menghadapi remaja yang tumbuh di era digital dengan berbagai tantangan emosional.
Menurut Veronica, remaja berusia 12 hingga 18 tahun cenderung lebih memercayai teman sebaya dibandingkan orang tua. Kondisi ini, jika tidak diimbangi dengan kedekatan emosional di rumah, dapat meningkatkan kerentanan anak terhadap pengaruh negatif dari luar.
“Bagi remaja, teman adalah segalanya. Apa pun yang datang dari teman dianggap paling benar. Masalah muncul ketika ada grooming pendekatan yang awalnya terlihat baik, penuh perhatian, dan pujian sementara hal itu tidak mereka rasakan di rumah,” ujarnya usai berkunjung ke Kampus Bambu, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat 13 Februari 2026.
Dirinya menyampaikan, kekosongan emosional dalam keluarga dapat membuat remaja mencari perhatian dari pihak luar secara tidak sehat. Situasi tersebut berpotensi mendorong pengambilan keputusan impulsif, termasuk menikah di usia muda.
Veronica juga menyoroti cara pandang remaja terhadap cinta yang kerap belum matang. Ia menilai, pada usia remaja, perasaan cinta sering kali dianggap sebagai solusi atas persoalan hidup, padahal bisa menjadi bentuk pelarian dari masalah yang dihadapi.
“Saat sudah jatuh cinta, semuanya terasa benar. Pada remaja, cinta bukan membuat mereka semakin kokoh, justru sering membuat mereka kabur dari kenyataan. Di sinilah pendekatan psikologis menjadi sangat krusial,” kata Veronica.
Untuk itu, ia mendorong orang tua menerapkan pendekatan personal care dan komunikasi yang sehat. Penanganan anak usia dini tentu berbeda dengan remaja berusia 15 hingga 17 tahun yang mulai memiliki kemandirian dan keberanian berpendapat.
Adapun beberapa langkah yang disarankan antara lain membangun hubungan yang lebih terbuka dan bersahabat dengan anak, mengedepankan kesabaran dalam menghadapi paparan gawai dan arus informasi digital, serta melakukan mentoring keluarga secara berkelanjutan melalui komunikasi rutin.
Selain peran keluarga, Veronica menyebut pemerintah juga menghadirkan berbagai program dukungan, seperti kebun komunitas, taman komunitas, serta layanan pendampingan dan bantuan psikolog. Namun, ia menegaskan bahwa negara memiliki keterbatasan dalam menjangkau setiap keluarga secara intensif.
“Negara punya tenaga pendamping dan psikolog, tapi mereka tidak bisa hadir setiap saat. Garda terdepan tetaplah keluarga, karena orang tualah yang paling sering bersama anak,” katanya.
Di harapkan dengan memperkuat ketahanan keluarga dan membangun komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak, angka pernikahan anak dapat ditekan sehingga tercipta generasi yang lebih berkualitas dan terlindungi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....