Sungai Meluap, Polisi Gendong Pelajar Demi Sekolah
- 28 Jan 2026 22:34 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Curah hujan yang terjadi di wilayah Manggarai Barat menyebabkan debit Sungai Wae Songka meningkat tajam. Aliran sungai yang memisahkan Kampung Lesem dan Desa Golo Riwu kini berubah menjadi arus deras yang berpotensi membahayakan keselamatan warga, terutama anak-anak sekolah.
Di tengah kondisi tersebut, aparat Kepolisian Sektor (Polsek) Kuwus menunjukkan kepedulian nyata dengan turun langsung membantu para pelajar menyeberangi sungai, Rabu pagi, 28 Januari 2026.
Sebanyak 21 siswa dari Kampung Lesem terpaksa menempuh jalur sungai setiap hari untuk mencapai sekolah. Melihat risiko yang dihadapi para pelajar, personel Polsek Kuwus sigap membantu dengan menggendong siswa satu per satu agar terhindar dari derasnya arus.
Dengan air sungai mencapai lutut orang dewasa, para polisi mengangkat anak-anak berseragam Pramuka ke pundak mereka demi memastikan keselamatan selama penyeberangan. Kapolsek Kuwus, IPTU Arsilinus Lentar, mengatakan langkah tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral aparat kepolisian terhadap keselamatan anak-anak.
“Setiap kali hujan turun di wilayah hulu, air sungai naik dengan cepat. Arusnya sangat kuat dan berbahaya jika dilalui anak-anak tanpa pendampingan,” katanya di sela-sela kegiatan.
IPTU Arsilinus menjelaskan, setiap hari terdapat 11 siswa sekolah dasar dan 10 siswa sekolah menengah pertama asal Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, yang harus menyeberangi Sungai Wae Songka untuk bersekolah di SDK Wetik dan SMP Negeri 1 Kuwus Barat.
Lebar sungai yang mencapai 15 hingga 20 meter menjadi tantangan serius, terlebih saat musim hujan. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua dan tenaga pendidik karena keselamatan anak-anak kerap terancam.
“Anak-anak membawa tas sekolah dan harus melawan arus yang bisa berubah dalam hitungan menit. Ini sangat berisiko,” kata Kapolsek.
Sebagai langkah lanjutan, Polsek Kuwus berinisiatif merancang pembangunan jembatan darurat untuk menghubungkan Kampung Lesem dan Desa Golo Riwu. Jembatan ini diharapkan menjadi solusi sementara agar aktivitas pendidikan dan mobilitas warga tetap berjalan meski cuaca buruk.
“Pembangunan jembatan darurat ini merupakan hasil komunikasi kami dengan warga dan para guru. Jembatan ini akan membantu anak-anak sekolah dan masyarakat agar tidak lagi bergantung pada penyeberangan sungai,” ujar IPTU Arsilinus.
Ia menambahkan, pembangunan jembatan tersebut akan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat dari kedua desa.
“Material yang digunakan nantinya bersifat sederhana dan memanfaatkan bahan lokal seperti bambu, kayu, pasir, dan batu. Meski darurat, jembatan ini diharapkan dapat memberikan rasa aman,” ujarnya.
Aksi aparat kepolisian di Sungai Wae Songka menjadi bukti nyata kehadiran negara di tengah masyarakat yang menghadapi kesulitan. Hingga jembatan darurat selesai dibangun, bantuan langsung dari aparat menjadi penghubung utama agar anak-anak tetap bisa mengenyam pendidikan.
“Kami berkomitmen untuk terus hadir dan membantu masyarakat. Keselamatan generasi penerus bangsa adalah tanggung jawab bersama,” ucap Kapolsek.
Rencana pembangunan jembatan darurat tersebut diharapkan segera terealisasi sebagai wujud kepedulian dan kerja sama lintas wilayah demi kepentingan kemanusiaan dan pendidikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....