Dokter Tirta Beberkan Mitos Kesehatan Telinga Hingga Skoliosis

  • 06 Okt 2026 09:53 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Jakarta – Praktisi kesehatan dokter Tirta memberikan penjelasan mendalam mengenai berbagai mitos medis yang beredar luas pada masyarakat Indonesia. Edukasi kesehatan ini disampaikan secara langsung melalui sebuah tayangan konten podcast untuk memberikan pemahaman secara tepat.

Isu pertama yang diluruskan adalah bahaya penggunaan cotton bud yang dimasukkan secara berlebihan. Menurutnya, penggunaan cotton bud hingga bagian dalam telinga berisiko mendorong kotoran serta dapat merusak gendang telinga.

Selanjutnya, ia menjelaskan fenomena bau kentut yang sering kali dihubungkan dengan konsumsi makanan berprotein tinggi. Faktor utama penyebab timbulnya bau kentut yang tidak sedap adalah ketidakseimbangan populasi bakteri pada saluran pencernaan.

Tirta juga menyoroti kebiasaan menahan keluarnya gas dari perut yang kerap dilakukan oleh sebagian orang sehari-hari. Ia menegaskan bahwa kemampuan buang angin justru menjadi tanda utama bahwa sistem pergerakan usus bekerja secara normal.

Terkait kondisi demam yang memuncak pada malam hari, hal tersebut dikarenakan perubahan aktivitas kekebalan tubuh. Ketika tubuh beristirahat malam, sistem imun akan bekerja lebih aktif untuk melawan infeksi virus atau bakteri.

Faktor genetika juga terbukti memegang peranan sangat penting terhadap timbulnya penyakit kardiovaskular seperti tekanan darah tinggi. Risiko riwayat penyakit keturunan tersebut akan menjadi semakin buruk apabila seseorang menerapkan pola hidup tidak sehat.

Isu mengenai kebiasaan mengunyah es batu yang sering dihubungkan dengan gejala kekurangan zat besi juga dibantah. Gejala utama dari kondisi anemia defisiensi besi adalah tubuh terasa sangat lemas serta kelopak mata pucat.

Mitos mengenai kebiasaan langsung rebahan seusai makan yang dianggap dapat membuat tubuh menjadi cepat gemuk dipastikan tidak benar. Kebiasaan buruk langsung berbaring setelah makan sebenarnya lebih berisiko memicu gangguan pencernaan berupa dispepsia serta penyakit asam lambung.

Aturan konsumsi makanan bagi orang yang rajin berolahraga juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan harian tubuh. Setiap orang disarankan untuk tidak menelan bulat-bulat semua informasi kesehatan yang ada di berbagai media sosial.

Mengenai kelainan tulang belakang atau skoliosis, ia menegaskan bahwa olahraga tidak bisa menyembuhkan kondisi medis tersebut secara total. Olahraga teratur hanya berfungsi untuk mengurangi rasa nyeri serta memperkuat otot pendukung di sekitar punggung dan perut.

Pada akhir penjelasannya, ia menyampaikan bahwa pembentukan massa otot tetap dapat dilakukan saat kondisi kekurangan asupan kalori harian. Kunci utama untuk mempertahankan massa otot adalah dengan menjaga kecukupan asupan protein harian secara konsisten dan teratur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....