ISPA Dominasi Keluhan Pengungsi Gempa Flores
- 04 Sep 2026 02:45 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende- Pelayanan kesehatan bagi warga terdampak gempa Flores masih menemukan berbagai keluhan kesehatan, dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi salah satu yang paling banyak ditangani. Dokter umum dari Medisar FKIK Atma Jaya, dr. Jeffrey Ryan, mengatakan kondisi tersebut banyak dialami warga yang masih bertahan di tenda pengungsian, termasuk anak-anak, bayi, hingga lanjut usia.
Kepada RRI di Posko Keuskupan Agung Ende, PSE Ende pada Rabu 2 September 2026, dr. Jeffrey menjelaskan keterlibatannya sebagai relawan berawal dari informasi yang diperolehnya melalui media sosial dan grup WhatsApp. Ia kemudian dihubungi Dokter Juan , salah satu dokter Caritas Indonesia yang membantu mengoordinasikan tim kesehatan untuk turun memberikan pelayanan kepada warga terdampak gempa di Flores.
Menurut dr. Jeffrey, kelompok usia yang membutuhkan pelayanan kesehatan cukup beragam, mulai dari bayi hingga lansia. Bahkan, dalam pelayanan yang dilakukan, tim menemukan bayi berusia sekitar dua bulan yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan.
Ia mengatakan, keluhan kesehatan yang ditemukan cukup bervariasi, tetapi didominasi ISPA. Sementara pada kelompok lansia, selain ISPA, tim juga menemukan keluhan hipertensi serta nyeri pada tubuh yang salah satunya dipengaruhi kondisi mereka yang harus beristirahat di tenda pengungsian.
Pelayanan kesehatan yang dilakukan tim tidak hanya terpusat di satu wilayah, tetapi menjangkau sejumlah titik di Ende dan wilayah lainnya. Untuk wilayah Ende, pelayanan antara lain dilakukan di Desa Ngabosi dan Desa Wolotoko.
Ia mengungkapkan, meskipun tidak seluruh wilayah Ende mengalami kerusakan bangunan secara langsung, dampak gempa tetap dirasakan masyarakat. Ia mencontohkan Desa Wolotoko yang sempat mengalami akses jalan tertutup selama kurang lebih tiga hari setelah gempa sehingga aktivitas warga ikut terganggu.
Menurutnya, selama menjalankan misi kemanusiaan tersebut, dr. Jeffrey menyebut pelayanan kesehatan telah berlangsung hampir dua minggu. Dalam pelaksanaannya, tim medis juga berkolaborasi dengan puskesmas setempat di masing-masing wilayah untuk memastikan warga terdampak tetap mendapatkan pelayanan kesehatan.
Ia menilai koordinasi antartim dalam penanganan warga terdampak sudah berjalan cukup baik sejak awal bencana. Selain dengan puskesmas, tim juga berkolaborasi dengan tenaga kesehatan dari Kementerian Kesehatan, mulai dari dokter, apoteker, bidan hingga perawat yang ditemui saat pelayanan di sejumlah posko.
dr. Jeffrey berharap kolaborasi lintas lembaga tersebut terus dipertahankan selama masa pemulihan pascagempa. Menurutnya, keberadaan tim medis dan dukungan fasilitas kesehatan setempat penting untuk memantau kondisi kelompok rentan, terutama anak-anak, bayi, dan lansia yang masih berada di lokasi pengungsian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....