Mitos atau Fakta: Sirih Pinang Disebut Bikin Gigi Kuat
- 18 Jun 2026 08:09 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ngada - Kebiasaan mengunyah sirih pinang masih banyak dijumpai di masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Tradisi ini kerap dikaitkan dengan anggapan bahwa sirih pinang dapat membuat gigi lebih kuat dan sehat.
Namun, drg. Mercy Batu yang bertugas di Puskesmas Surisina, Bajawa kepada RRI , menjelaskan bahwa anggapan tersebut tidak sesuai dengan temuan medis. Ia menegaskan bahwa secara kesehatan, klaim tersebut lebih tepat disebut mitos.
Menurutnya, meskipun daun sirih memiliki sifat antiseptik alami, campuran sirih pinang terdiri dari beberapa bahan lain. Di antaranya pinang, kapur, dan kadang tembakau yang masing-masing memiliki dampak berbeda bagi kesehatan mulut.
drg. Mercy menjelaskan bahwa pinang mengandung zat arekolin yang bersifat toksik bagi jaringan mulut. Dalam jangka panjang, zat ini dapat memicu penebalan jaringan atau fibrosis di rongga mulut.
Selain itu, pinang juga mengandung zat karsinogen yang dapat meningkatkan risiko kanker mulut. Risiko ini muncul terutama jika kebiasaan tersebut dilakukan secara terus-menerus dalam jangka waktu panjang.
Sementara itu, kapur yang digunakan dalam campuran sirih pinang bersifat basa dan dapat menyebabkan iritasi kronis pada jaringan mulut. Iritasi ini terjadi secara perlahan dan sering tidak disadari oleh penggunanya.
Tembakau yang kadang ditambahkan dalam kebiasaan tersebut juga memperburuk kondisi kesehatan mulut. Kandungan nikotin dan tar di dalamnya dapat merusak jaringan gusi sehingga gigi menjadi mudah goyang.
drg. Mercy menambahkan bahwa efek gigi terasa lebih kuat yang dirasakan sebagian orang hanya bersifat sementara. Hal itu terjadi karena pengerutan jaringan, bukan karena struktur gigi benar-benar menjadi lebih kuat.
Ia juga menjelaskan bahwa kebiasaan ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai masalah seperti perubahan warna gigi, penumpukan karang gigi, hingga kekakuan pada rahang. Pada kasus tertentu, pasien bahkan mengalami kesulitan membuka mulut secara normal.
Meski demikian, drg. Mercy mengajak masyarakat untuk tetap menghormati tradisi yang ada. Ia menyarankan agar kebiasaan tersebut dilakukan dengan lebih bijak, yaitu dengan mengurangi frekuensi dan tetap menjaga kebersihan gigi serta mulut secara rutin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....