Jarak dan Transportasi Laut Picu Keterlambatan Penanganan Nyeri Perut di Mabar

  • 11 Jun 2026 18:07 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Faktor geografis sebagai daerah kepulauan dan keterbatasan akses transportasi laut masih menjadi tantangan utama dalam penanganan kasus kegawatdaruratan medis di Kabupaten Manggarai Barat. Kondisi tersebut kerap menyebabkan keterlambatan diagnosis dan penanganan pasien yang mengalami nyeri perut serius, sehingga meningkatkan risiko terjadinya komplikasi.

Dokter Spesialis Bedah RSUD Komodo, dr. Gigih Laksamana, Sp.B., mengatakan waktu menjadi faktor penting dalam penanganan kasus akut abdomen atau kegawatdaruratan pada organ dalam rongga perut. Namun, banyak pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah memburuk akibat terkendala akses menuju fasilitas kesehatan.

Menurutnya, jarak tempuh yang jauh menjadi penyebab utama keterlambatan pasien mendapatkan penanganan medis. Warga yang tinggal di pusat Kota Labuan Bajo umumnya dapat menjangkau fasilitas kesehatan dalam waktu 30 menit hingga satu jam. Sebaliknya, warga yang berada di wilayah pedalaman maupun pulau-pulau terluar harus menempuh perjalanan berjam-jam.

“Faktor yang paling dominan memicu keterlambatan biasanya adalah jarak dari tempat tinggal ke fasilitas kesehatan. Ada pasien yang harus menempuh perjalanan tiga sampai lima jam dari kampung. Bahkan, seperti kasus tadi malam, ada pasien yang datang langsung dari Pulau Komodo. Itu artinya mereka harus menyeberangi lautan terlebih dahulu,” kata dr. Gigih dalam program Zona Edukasi RRI Labuan Bajo, Senin 8 Juni 2026.

Selain faktor jarak dan kondisi geografis, keterbatasan biaya transportasi serta kesiapan keluarga untuk mendampingi pasien juga sering menjadi alasan penundaan berobat. Akibatnya, pasien baru datang ke rumah sakit setelah kondisi kesehatannya memburuk.

Lebih lanjut, dr. Gigih menyampaikan bahwa keterlambatan penanganan pada kasus nyeri perut serius, seperti radang usus buntu atau radang kantong empedu, dapat memicu berbagai komplikasi. Salah satunya adalah pecah atau bocornya usus yang menyebabkan isi saluran pencernaan dan bakteri menyebar ke rongga perut.

Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi infeksi berat atau peritonitis. Selain itu, kebocoran pada organ pencernaan juga berisiko menyebabkan perlengketan antarorgan yang dapat menyulitkan tindakan operasi.

“Kalau sudah terjadi kebocoran dan infeksi berat, pasien bisa memerlukan operasi bertahap atau berulang. Risiko kematian juga meningkat apabila infeksi sudah menyebar ke aliran darah,” ujarnya.

Guna mengatasi tantangan geografis tersebut, dr. Gigih menekankan pentingnya deteksi dini oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas, pustu, maupun desa sebelum pasien dirujuk ke RSUD Komodo.

Dirinya juga mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan nyeri perut yang muncul secara mendadak dan terasa berat, terutama jika tidak membaik dalam waktu singkat.

“Mengingat jarak kita yang jauh, jika ada tanda bahaya nyeri perut yang tidak membaik, segeralah dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat agar bisa dievaluasi oleh dokter atau tenaga kesehatan setempat sebelum kondisi pasien memburuk dalam perjalanan,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....