Mahasiswa Konseling Pastoral STIPAR Hadapi Tantangan Gen Z
- 19 Mei 2026 10:51 WIB
- Ende
Poin Utama
- CLBK Pro Dua RRI Ende membahas kehidupan mahasiswa Konseling Pastoral STIPAR Ende.
- Mahasiswa memilih jurusan karena kepedulian terhadap kesehatan mental generasi muda.
- Lulusan memiliki peluang menjadi konselor pastoral maupun guru BK profesional.
- Kuliah konseling dinilai kompleks karena mempelajari psikologi hingga analisis kasus.
- Mahasiswa ingin mengubah stigma guru BK yang dianggap menakutkan siswa.
- Mahasiswa STIPAR tetap menjalani gaya hidup Gen Z secara wajar dan positif.
- Mereka berkomitmen menjadi pendidik dan konselor berintegritas di masa depan.
RRI.CO.ID, Ende - Program CLBK Cerita Langsung Bersama Komunitas RRI Pro 2 Ende mengangkat topik “Jadi Mahasiswa Konseling Pastoral di Era Gen Z” Jumat 17 April 2026. Obrolan interaktif tersebut menghadirkan mahasiswa semester dua Program Studi Konseling Pastoral Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAR) Ende.
Selama kurang lebih tiga puluh empat menit, mahasiswa membahas realita kuliah, ekspektasi, hingga tantangan era digital. Mereka berasal dari berbagai daerah dan berbagi pengalaman menjadi calon konselor pastoral sekaligus guru bimbingan konseling.
“Era digital membawa tantangan kesehatan mental yang besar, sementara guru BK di daerah masih terbatas,” ujar Jois, mahasiswa asal Wolowaru. Kondisi tersebut menjadi alasan dirinya memilih jurusan Konseling Pastoral demi membantu anak-anak dan remaja.
Mahasiswa lain mengungkapkan kuliah konseling ternyata jauh lebih kompleks dibandingkan ekspektasi awal mereka sebelumnya. Selain mempelajari psikologi perkembangan, mahasiswa juga dituntut memahami psikologi abnormal, logika, hingga analisis kasus nyata.
“Banyak orang mengira guru BK hanya memanggil siswa bermasalah. Padahal kami belajar mendampingi dan mencari akar persoalan,” kata Icha. Pendekatan persuasif dan pendampingan mendalam menjadi bagian penting pembelajaran mahasiswa di kampus tersebut.
Di tengah stereotip mahasiswa kampus agama dianggap terlalu kaku, mereka mengaku tetap menjalani kehidupan khas generasi muda. Aktivitas membuat konten media sosial, bermain gim daring, hingga nongkrong bersama teman tetap dijalani dengan menjaga batas kewajaran.
Melalui program studi tersebut, mahasiswa berharap dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu sekaligus membanggakan orang tua mereka. Mereka juga berkomitmen tumbuh menjadi konselor pastoral serta guru BK yang berintegritas bagi generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....