Waspada TBC pada Anak dan Lansia: Dokter Paru Sebut Gejala Sering Tak Terdeteksi
- 03 Mar 2026 08:45 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Tuberkulosis (TBC) selama ini kerap dikaitkan dengan kelompok usia produktif. Namun, dokter spesialis paru di RSUD Komodo, Labuan Bajo, Manggarai dr. David Dwi Putra, M.M.E., Sp.P., mengingatkan masyarakat Manggarai Barat untuk lebih waspada terhadap penularan pada kelompok rentan, khususnya anak-anak dan lanjut usia (lansia).
Dalam dialog Zona Edukasi di RRI Labuan Bajo, dr. David mengungkapkan bahwa, diagnosis TBC pada anak dan lansia kerap terlambat karena gejalanya tidak selalu khas seperti pada orang dewasa.
“Gejala TBC pada anak dan lansia sering tidak klasik. Tidak selalu batuk berdahak seperti yang umum kita kenal, sehingga kerap tidak terdeteksi sejak awal,” ujar dr. David, Senin 2 Maret 2026.
| Baca juga: Katarak Picu 77 Persen Kasus Kebutaan di NTT |
Ia juga menegaskan, kasus TBC pada anak hampir selalu berkaitan dengan penularan dari orang dewasa di lingkungan terdekat, terutama yang tinggal serumah.
“TB pada anak tidak semenular TB dewasa. Tetapi kalau anak terkena, hampir pasti ia tertular dari orang dewasa di rumah atau sekitarnya,” ujarnya.
Menurutnya, sistem kekebalan tubuh anak yang belum sempurna membuat mereka lebih rentan mengalami komplikasi serius. Jika tidak segera ditangani, TBC dapat mengganggu tumbuh kembang anak secara permanen.
Sementara pada lansia, tantangan terletak pada gejala yang kerap tersamarkan oleh penyakit penyerta seperti gangguan ginjal, diabetes, atau penyakit paru kronis lainnya. Kondisi ini membuat deteksi dini menjadi lebih sulit.
“Pada lansia, batuk atau demam bisa saja tidak terlalu menonjol. Kadang tertutup oleh penyakit lain yang sudah ada, sehingga kasusnya terlambat ditemukan,” ungkap dr. David.
Untuk melindungi kelompok rentan, dr. David menyarankan sejumlah langkah pencegahan. Pertama, vaksinasi BCG tetap penting diberikan pada bayi, terutama sebelum usia dua bulan, guna mencegah TBC berat.
Kedua, jika terdapat satu anggota keluarga dewasa yang positif TBC, seluruh penghuni rumah, terutama anak dan lansia, wajib menjalani skrining di Puskesmas, seperti tes mantoux atau pemeriksaan lanjutan sesuai anjuran tenaga medis.
Ketiga, kini tersedia terapi pencegahan bagi anak atau anggota keluarga yang sehat namun tinggal serumah dengan pasien TBC, guna menekan risiko tertular.
“Kita harus melindungi mereka yang imunitasnya lebih lemah. Jangan anggap batuk sebagai hal sepele jika berlangsung lama, karena bisa membahayakan anak dan orang tua kita di rumah,” katanya.
Dengan kewaspadaan dan deteksi dini, diharapkan kasus TBC pada kelompok rentan di Labuan Bajo dapat ditekan, sekaligus mencegah dampak jangka panjang yang merugikan kesehatan keluarga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....