TBC Bukan Kutukan: Warga Labuan Bajo Diajak Hapus Stigma dan Berhenti Merasa Malu
- 03 Mar 2026 08:32 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Di tengah tingginya angka kasus Tuberkulosis (TBC) di Indonesia, tantangan besar yang dihadapi bukan hanya persoalan medis, tetapi juga stigma sosial yang masih melekat di tengah masyarakat. Di Manggarai Barat, sebagian warga masih menganggap TBC sebagai penyakit aib bahkan kutukan.
Dalam dialog Zona Edukasi di RRI Labuan Bajo, dokter spesialis paru dr. David Dwi Putra, M.M.E., Sp.P., menegaskan, anggapan tersebut keliru dan harus segera dihapus karena dapat menghambat upaya penyembuhan.
“TBC itu bukan aib, bukan juga kutukan. Ini penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis dan bisa disembuhkan total,” kata dr. David, Senin 2 Maret 2026.
Menurutnya, stigma sosial sering membuat seseorang yang mengalami batuk kronis enggan memeriksakan diri. Rasa malu dan takut dikucilkan justru memperbesar risiko penularan, terutama di lingkungan keluarga yang tinggal serumah.
Ia juga menjelaskan, TBC tidak mengenal status sosial maupun usia. Meski risiko lebih tinggi di lingkungan padat dan lembap, penyakit ini dapat menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak, usia produktif, hingga lanjut usia.
“Yang berbahaya bukan hanya kumannya, tetapi ketika orang memilih diam dan tidak berobat karena takut dicap negatif,” ujarnya.
dr. David menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam proses penyembuhan. Alih-alih menjauhi, keluarga diharapkan menjadi Pengawas Menelan Obat (PMO) guna memastikan pasien disiplin menjalani terapi selama enam bulan tanpa terputus.
“Jangan merasa rendah diri. Dengan pengobatan yang tepat dan disiplin, pasien TBC bisa sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasa,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengobatan TBC tersedia secara gratis di fasilitas kesehatan pemerintah, sehingga tidak ada alasan untuk menunda pemeriksaan.
Melalui pendekatan yang lebih terbuka dan manusiawi, dr. David berharap tidak ada lagi warga yang menyembunyikan penyakitnya karena malu. Kesadaran untuk memeriksakan diri sejak dini dan menjalani pengobatan hingga tuntas menjadi kunci utama memutus rantai penularan di Labuan Bajo tanpa mengorbankan martabat penderita.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....