Indonesia Peringkat Kedua Dunia Kasus TBC, Warga Diminta Waspada

  • 03 Mar 2026 08:29 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Indonesia saat ini menempati peringkat kedua di dunia dengan jumlah kasus Tuberkulosis (TBC) terbanyak setelah India. Kondisi ini menjadi perhatian serius, termasuk di wilayah Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hal tersebut disampaikan dr. David Dwi Putra, M.M.E., Sp.P., dalam dialog Zona Edukasi RRI Labuan Bajo, Senin 2 Maret 2026. Ia menyampaikan, TBC merupakan penyakit menular yang dapat dicegah dan disembuhkan, asalkan ditangani dengan benar dan pengobatan dijalani hingga tuntas.

“Batuk yang perlu dicurigai sebagai TBC adalah batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu. Biasanya disertai penurunan berat badan drastis tanpa sebab jelas, demam terutama malam hari, dan keringat malam,” ujar dr. David.

Menurutnya, karakteristik batuk pada TBC bisa beragam, mulai dari batuk kering, berdahak, hingga disertai darah. Karena itu, masyarakat diminta tidak menyepelekan gejala yang berlangsung lama.

Lebih lanjut, dr. David juga meluruskan sejumlah mitos yang masih berkembang di masyarakat. Ia menegaskan bahwa TBC bukan penyakit keturunan, melainkan menular melalui udara (droplet) saat penderita batuk atau bersin.

“TBC bukan penyakit genetik. Penularannya melalui udara, sehingga siapa saja bisa tertular, terutama jika tinggal serumah dengan penderita yang belum diobati,” katanya.

Dirinya menambahkan, meskipun kasus lebih banyak ditemukan di lingkungan padat dan kurang ventilasi, TBC dapat menyerang semua kalangan tanpa memandang usia maupun status sosial ekonomi.

Kabar baiknya, tingkat keberhasilan pengobatan TBC dapat mencapai lebih dari 90 persen apabila pasien disiplin menjalani terapi. Pemerintah Indonesia telah menyediakan layanan pemeriksaan dan pengobatan TBC secara gratis di fasilitas kesehatan pemerintah, termasuk Puskesmas.

“Pengobatan TBC saat ini berlangsung selama enam bulan dan harus diminum secara rutin tanpa terputus. Jika berhenti di tengah jalan, bakteri bisa menjadi kebal obat atau resisten, sehingga pengobatan menjadi lebih sulit dan lebih lama,” ungkap dr. David.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa kasus TBC resisten obat jauh lebih kompleks penanganannya dan membutuhkan waktu pengobatan yang lebih panjang. Dalam upaya pencegahan, dr. David mengajak masyarakat menerapkan prinsip TOS TB, yakni Temukan dan Obati Sampai Tuntas.

Keluarga yang memiliki anggota dengan TBC disarankan melakukan skrining, seperti tes mantoux atau rontgen dada, meskipun belum menunjukkan gejala. Selain itu, vaksin BCG pada bayi tetap penting untuk mencegah komplikasi TBC berat pada anak.

“Jangan anggap TBC sebagai aib. Ini penyakit medis yang bisa sembuh. Kuncinya adalah berani periksa dan disiplin berobat sampai selesai,” ucap dr. David.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan kepatuhan dalam pengobatan, diharapkan rantai penularan TBC di Indonesia, termasuk di Manggarai Barat, dapat ditekan secara signifikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....