Alpukat Buah Klimakterik, Matang Usai Dipanen
- 04 Feb 2026 06:42 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat — Alpukat kini tidak lagi dipandang sekadar buah pelengkap hidangan, melainkan telah berkembang menjadi komoditas hortikultura unggulan bernilai ekonomi tinggi. Permintaan pasar yang terus meningkat, baik di tingkat domestik maupun mancanegara, menjadikan alpukat sebagai salah satu produk potensial dalam mendukung penguatan sektor pertanian nasional.
Buah alpukat dikenal memiliki cita rasa khas dengan perpaduan rasa manis dan gurih serta tekstur pulen. Keunikan alpukat juga terletak pada proses pematangannya yang berbeda dibandingkan buah-buahan lain, terutama terkait waktu dan teknik panen yang memerlukan ketelitian khusus dari petani.
Salah satu karakteristik utama alpukat adalah tingkat kematangannya yang tidak mudah dikenali secara kasat mata. Berbeda dengan buah lain yang cepat rusak jika terlalu lama dibiarkan di pohon, alpukat justru dapat bertahan di pohon selama berbulan-bulan tanpa mengalami pematangan.
Secara fisiologis, alpukat dikategorikan sebagai buah klimakterik, yakni buah yang baru akan matang dan melunak setelah dipetik dari pohonnya. Proses pematangan ini terjadi karena alpukat memproduksi gas etilen, yaitu hormon alami yang memicu perubahan tekstur dan rasa buah setelah panen.
Berdasarkan pedoman budidaya, umur panen alpukat berkisar antara lima hingga tujuh bulan atau sekitar 180–210 hari setelah bunga mekar. Pada fase ini, buah umumnya telah mencapai tingkat kematangan sekitar 80 hingga 85 persen di pohon, sebelum kemudian dipetik untuk menjalani proses pematangan lanjutan pascapanen.
Setelah dipanen, alpukat mentah dengan kondisi masih hijau dan keras membutuhkan waktu sekitar dua hingga lima hari, atau bahkan lebih, untuk mencapai tingkat kematangan optimal pada suhu ruang. Lama waktu pematangan ini dipengaruhi oleh varietas buah, kondisi lingkungan, serta intensitas produksi gas etilen.
Dalam Buku Lapangan Budidaya Alpukat yang diterbitkan Direktorat Buah dan Florikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian Tahun 2021, alpukat disebut memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi masyarakat pedesaan.
“Alpukat sangat potensial menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi masyarakat petani di pedesaan karena nilai jualnya yang tinggi dan potensi serapan pasar yang luas dalam bentuk segar maupun olahan,” demikian kutipan dalam buku tersebut.
Selain memberikan manfaat ekonomi, tanaman alpukat juga memiliki peran strategis dalam aspek lingkungan. Pohon alpukat kerap dimanfaatkan untuk kegiatan penghijauan dan konservasi lahan kritis karena kemampuannya meningkatkan daya resap air tanah, terutama di kawasan daerah aliran sungai.
Untuk menentukan alpukat yang siap panen, petani perlu memperhatikan sejumlah ciri teknis, antara lain perubahan tekstur kulit yang tampak lebih kusam dan munculnya lapisan lilin, serta bunyi nyaring saat buah diketuk. Pada beberapa varietas tertentu, warna kulit juga dapat berubah menjadi hijau terang, kecoklatan, atau muncul bintik-bintik khas.
Dengan penerapan teknik budidaya yang tepat, seperti penggunaan benih unggul bersertifikat serta pengaturan pola tanam yang baik, alpukat diharapkan terus menjadi primadona agribisnis Indonesia dan mampu memenuhi standar kualitas pasar global, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....