Bahaya Miskonsepsi Pada Masa Pemulihan Luka Pasca Operasi
- 24 Jan 2026 09:29 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Dokter Spesialis Bedah, Lambertus Josef Frainademetz Buga, mengingatkan pasien agar tidak terjebak miskonsepsi mengenai fase pemulihan pascaoperasi. Banyak pasien menganggap luka yang sudah kering dan tidak nyeri berarti tubuh sudah boleh beraktivitas bebas seperti sedia kala.
Hal tersebut ditegaskan Dokter Lambertus dalam Program Indonesia Sehat di Pro1 RRI Ende, Jumat, 23 Januari 2026. Ia menjelaskan bahwa proses penyembuhan luka bagian luar dan jaringan organ dalam membutuhkan durasi waktu yang sangat berbeda.
Mobilisasi yang terlalu cepat atau dipaksakan tanpa anjuran dokter dapat memicu komplikasi serius pada pasien. Risiko yang mengintai meliputi infeksi luka, perdarahan dalam, hingga kembalinya penyakit yang sebelumnya telah ditangani melalui tindakan bedah.
Dokter Josef Buga juga menyoroti bahaya perdarahan dalam yang sering kali tidak disadari oleh pasien di rumah. Jika tidak segera ditangani medis, kondisi ini sangat fatal karena dapat mengakibatkan kegagalan fungsi tubuh hingga kematian.
Selain faktor fisik, stabilitas psikologis dan pola pikir pasien memegang peranan krusial dalam mempercepat proses penyembuhan klinis. Stres yang berlebihan akan memicu hormon yang justru menghambat regenerasi jaringan tubuh pascaoperasi dilakukan oleh tim medis.
Komunikasi dua arah antara dokter dan pasien harus terjalin sejak sebelum tindakan hingga masa kontrol rutin. Dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk menjaga hormon anti-stres tetap stabil agar tekanan darah pasien tidak melonjak selama pemulihan.
Pasien dengan penyakit penyerta seperti diabetes juga diminta lebih patuh dalam mengontrol kadar gula darah mereka. Hal ini dikarenakan proses penyembuhan luka bagi penderita diabetes berlangsung dua kali lebih lama dibandingkan pasien normal.
Menutup edukasinya, Dokter Lambertus berpesan agar pasien mengutamakan kesiapan mental sebelum naik ke meja operasi. Ketenangan pikiran merupakan modal utama agar tubuh mampu merespons tindakan medis dengan optimal dan meminimalkan risiko perlengketan organ.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....