Kemenkes Luncurkan Surveilans Kadar Timbal pada Anak

  • 16 Des 2024 07:12 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Kementerian Kesehatan meluncurkan survelans kadar timbal pada anak sebagai upaya untuk perlindungan anak. Paparan timbal dapat menyebabkan dampak serius pada kesehatan anak-anak, termasuk anemia, gangguan sistem imun, penurunan IQ, dan gangguan pertumbuhan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI berkomitmen untuk memulai upaya pemantauan kadar timbal dalam darah anak di Indonesia melalui Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) tahap pertama. Dr. Anas Ma’ruf, MKM, Direktur Penyehatan Lingkungan Kemenkes, mengungkapkan pentingnya menghasilkan data berkualitas tinggi terkait paparan timbal pada anak-anak.

“Data ini akan menjadi langkah awal yang penting untuk pencegahan paparan timbal yang efektif, serta pengurangan sumber timbal, penguatan sistem kesehatan, dan peningkatan kesadaran masyarakat,” ujarnya dalam rilisnya pada Sabtu (14/12/2024).

Kegiatan SKTD tahap pertama, yang dijadwalkan berlangsung dari Januari hingga Juli 2025, melibatkan pemeriksaan darah anak untuk mengetahui kadar timbal serta kunjungan ke rumah-rumah untuk mengambil sampel debu, tanah, air, dan barang sehari-hari yang berpotensi tercemar timbal. Survei ini bertujuan untuk memberikan gambaran lebih luas tentang tingkat paparan timbal pada anak-anak di Indonesia, dengan menggunakan sampel yang lebih representatif.

Pada 2019, Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) memperkirakan 8,2 juta anak Indonesia memiliki kadar timbal darah (KTD) di atas 5 mikrogram per desiliter (µg/dL), tingkat yang disarankan oleh WHO untuk intervensi kesehatan masyarakat. Sebelumnya, lebih dari 20 penelitian terkait kadar timbal darah anak telah dilakukan, namun banyak yang terbatas pada wilayah tertentu dengan sampel yang kecil.

Epidemiolog dari Vital Strategies, Edwin Siswono, menjelaskan bahwa mengetahui sumber timbal dan kelompok yang paling rentan terhadap paparan adalah langkah pertama untuk mengurangi bahaya timbal.

“Data yang terkumpul dari surveilans ini akan membantu mengidentifikasi sumber utama paparan timbal dan menjadi dasar untuk kebijakan yang lebih efektif dalam melindungi anak-anak,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Dr. Wahyu Pudji Nugraheni, menambahkan bahwa BRIN berperan sebagai peneliti utama dalam pelaksanaan SKTD tahap pertama.

“Kami berharap hasil surveilans ini dapat memperkuat pemantauan kadar timbal darah anak dan memberikan kontribusi dalam pengendalian paparan timbal di Indonesia,” kata Wahyu.

Budi Susilorini, Direktur Yayasan Pure Earth Indonesia, menekankan pentingnya bagi orang tua untuk mengetahui apakah anak mereka terpapar timbal dan sumber-sumber potensialnya.

“Dengan mengetahui hal ini sejak dini, orang tua dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat untuk memastikan anak tumbuh dan berkembang secara optimal,” ujar Budi.

Dr. Anas menambahkan bahwa hasil dari SKTD tahap pertama ini diharapkan dapat menjadi alat pemantauan yang berkelanjutan dan efektif dalam pengendalian paparan timbal darah pada anak-anak di Indonesia, seiring dengan upaya untuk mengurangi bahaya timbal pada generasi masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....