Teknologi dan Braille Perkuat Kemandirian Tunanetra

  • 28 Agt 2026 22:20 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Perkembangan teknologi digital dengan fitur pembaca layar tidak menghilangkan kebutuhan penyandang tunanetra terhadap huruf Braille. Keduanya justru dinilai saling melengkapi untuk memperluas akses informasi, pendidikan, dan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.

Pengajar Braille asal Maumere, Yanuarius Melkiana Plero, mengatakan teknologi digital memberikan kemudahan bagi penyandang tunanetra untuk mengakses informasi secara cepat. Namun, kemampuan membaca dan menulis Braille tetap diperlukan untuk mendukung ketelitian serta berbagai kebutuhan yang tidak sepenuhnya dapat digantikan perangkat digital.

“Gawai dengan fitur pembaca layar memang memudahkan kami mendengarkan informasi dan mencari referensi tugas secara cepat. Namun, huruf Braille fisik tetap sangat dibutuhkan untuk melatih ketelitian menulis naskah, membaca bacaan di ibadah, hingga menyerap materi akademik,” kata Nano dalam Program Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro 1 RRI Ende, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Menurut Nano, pembaca layar seperti TalkBack dan aplikasi serupa memungkinkan pengguna mengoperasikan telepon pintar melalui informasi yang disuarakan. Teknologi tersebut membantu penyandang tunanetra mengakses dokumen, berkomunikasi, mencari informasi, serta mendukung aktivitas pendidikan tanpa harus selalu bergantung pada bantuan orang lain.

Di sisi lain, Braille tetap memiliki fungsi penting dalam proses literasi dasar dan pengembangan kemampuan membaca secara taktil. Penguasaan Braille juga membantu pengguna memahami ejaan, tanda baca, susunan kalimat, serta menulis secara lebih terstruktur.

Pemanfaatan teknologi juga berkembang pada kebutuhan praktis sehari-hari, termasuk mengenali nominal uang. Aplikasi seperti Cash Reader dapat digunakan untuk membantu penyandang tunanetra mengidentifikasi pecahan mata uang secara lebih mandiri.

Nano menilai teknologi dan Braille sebaiknya tidak dipertentangkan karena keduanya memiliki fungsi berbeda. Penguasaan keduanya justru memberikan lebih banyak pilihan bagi penyandang tunanetra untuk menyesuaikan cara mengakses informasi berdasarkan kebutuhan dan situasi.

Kombinasi literasi Braille dan keterampilan teknologi digital dinilai dapat memperkuat kemandirian penyandang tunanetra di tengah perkembangan teknologi. Akses terhadap perangkat yang ramah disabilitas dan pendidikan Braille yang memadai menjadi bagian penting dalam memastikan transformasi digital benar-benar inklusif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....