Tak Cukup Keras, Suara Siaran Harus Terukur

  • 26 Agt 2026 18:02 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Kualitas suara dalam siaran radio tidak cukup hanya terdengar keras. Teknisi perlu memastikan audio tetap jelas, seimbang, nyaman didengar, dan tidak mengalami clipping saat diproduksi maupun disiarkan.

Untuk menjaga kualitas tersebut, teknisi audio menggunakan sejumlah alat ukur, di antaranya VU meter, Peak Meter, dBFS, LUFS, dan True Peak. Masing-masing memiliki fungsi berbeda dalam memantau karakter dan tingkat suara.

VU meter digunakan untuk melihat rata-rata kekuatan suara. Pergerakan jarum pada alat ini membantu teknisi memantau tingkat audio secara umum sehingga suara tidak terlalu rendah maupun berlebihan.

Sementara Peak Meter digunakan untuk memantau titik puncak sinyal audio. Dalam sistem digital, tingkat puncak tersebut umumnya ditampilkan dalam satuan dBFS.

Dalam sistem audio digital, 0 dBFS merupakan batas maksimum. Jika sinyal mencapai atau melewati batas tersebut, audio berisiko mengalami clipping yang membuat suara terdengar pecah dan tidak nyaman.

Namun, tingkat puncak suara tidak selalu menunjukkan seberapa keras audio terdengar oleh pendengar. Karena itu, teknisi juga menggunakan LUFS untuk mengukur tingkat kekerasan suara secara keseluruhan.

Pengukuran LUFS membantu menjaga perbedaan tingkat suara antara materi siaran, seperti suara penyiar, berita, wawancara, iklan, jingle, dan musik, agar tidak terlalu jauh ketika diputar secara berurutan.

Selain itu, True Peak digunakan untuk mendeteksi puncak sinyal secara lebih akurat. Pengukuran ini penting untuk mengantisipasi puncak suara yang dapat muncul setelah sinyal diproses atau dikonversi ke format digital tertentu.

Pengukuran audio tersebut memiliki sejumlah rujukan teknis, antara lain ITU-R BS.1770 yang menjadi standar untuk pengukuran loudness dan true-peak level. Dalam penyiaran, EBU R 128 juga menjadi salah satu pedoman untuk menjaga konsistensi tingkat kekerasan suara.

Bagi teknisi radio, pemantauan berbagai parameter tersebut menjadi bagian penting dalam proses produksi. Audio yang baik bukan berarti audio yang dibuat sekeras mungkin, melainkan audio yang memiliki tingkat kekerasan sesuai, tidak mengalami clipping, serta tetap nyaman didengar.

Dengan pengukuran yang tepat, kualitas suara dapat dijaga sejak berada di ruang produksi hingga diterima pendengar. Hasil akhirnya bukan sekadar suara yang keras, tetapi siaran yang jelas, seimbang, dan nyaman didengarkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....