Acil Ende Dorong Generasi Muda Bangun Kepedulian Lingkungan Berkelanjutan Bersa

  • 27 Jul 2026 10:45 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Acil Ende menilai kesadaran lingkungan di kalangan pemuda Kabupaten Ende terus meningkat.
  • Edukasi karakter di sekolah menjadi strategi utama membangun kebiasaan menjaga lingkungan sejak dini.
  • Reboisasi yang berkelanjutan dinilai penting untuk menjaga sumber mata air dan mengurangi risiko bencana.
  • Acil Ende mengembangkan ecobrick dan ecosofa sebagai solusi pengelolaan sampah plastik bernilai ekonomi.
  • Generasi muda diajak mengurangi plastik sekali pakai dan menerapkan prinsip wisata ramah lingkungan.

RRI.CO.ID, Ende - Program SPADA Pro 2 RRI Ende menghadirkan Cahyadi sekertaris Anak Cinta Lingkungan (Acil) Ende untuk membahas peran generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan di Nusa Tenggara Timur, Jumat 19 Juni 2026 . Melalui dialog tersebut, Cahyadi memaparkan perkembangan kesadaran lingkungan di kalangan pemuda, tantangan yang masih dihadapi, serta berbagai aksi nyata yang dilakukan komunitasnya dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Menurut Cahyadi, kepedulian anak muda di Kabupaten Ende terhadap isu lingkungan terus menunjukkan perkembangan positif. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya komunitas yang bergerak di bidang pengelolaan sampah serta meningkatnya partisipasi pelajar, mulai dari jenjang PAUD, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi dalam berbagai kegiatan edukasi dan daur ulang.

Cahyadi menjelaskan, Acil Ende lebih mengutamakan pembentukan karakter melalui pendidikan lingkungan dibandingkan kegiatan bersih-bersih yang hanya bersifat sesaat. "Kami memilih masuk ke sekolah-sekolah karena perubahan harus dimulai dari pola pikir. Kebiasaan menjaga lingkungan dibentuk sejak usia dini melalui pendidikan dan teladan yang baik," ujarnya.

Selain persoalan sampah, Acil Ende juga menyoroti pentingnya menjaga kawasan resapan air melalui reboisasi yang berkelanjutan. "Selama ini banyak kegiatan penanaman pohon hanya bersifat seremonial. Padahal, pohon yang ditanam harus dirawat bersama agar mampu menjaga sumber mata air dan mengurangi risiko kekeringan maupun banjir," kata Cahyadi.

Sebagai bentuk solusi, Acil Ende mengembangkan inovasi pengolahan sampah plastik melalui pembuatan ecobrick dan ecosofa. Kantong plastik bekas dicuci, dikeringkan, dipotong kecil, kemudian dipadatkan ke dalam botol plastik sebelum dirangkai menjadi furnitur.

Selain membantu mengurangi sampah yang sulit didaur ulang, produk tersebut juga memiliki nilai ekonomi dengan harga jual sekitar Rp10 ribu hingga Rp25 ribu per botol di pasar digital. Cahyadi juga mengingatkan masyarakat untuk mengurangi penggunaan styrofoam dan plastik sekali pakai, terutama saat berkumpul di ruang terbuka.

Ia menilai kebiasaan membawa wadah makanan sendiri lebih ramah lingkungan dibandingkan menghasilkan sampah sekali pakai. Upaya ini sekaligus menghindari praktik membakar sampah plastik dan ban bekas yang dapat melepaskan zat beracun serta membahayakan kesehatan.

Menutup dialog, Cahyadi mengajak generasi muda menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Ia mengutip prinsip yang selalu dibawanya saat menjelajahi alam, yakni "Don't kill nothing but time, don't take nothing but pictures, don't leave nothing but footprints".

Prinsip ini sebagai pengingat agar setiap orang menikmati alam tanpa merusak dan meninggalkan dampak negatif bagi lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....