Ahli Himbau Masyarakat Kenali Perbedaan Longsor dan Rayapan
- 26 Jun 2026 14:08 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Masyarakat di wilayah Flores diminta memahami perbedaan antara longsor dan rayapan sebagai bagian dari fenomena gerakan tanah. Pemahaman tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi risiko korban saat terjadi bencana di kawasan perbukitan.
Kepala Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Nusa Tenggara, Arios Gele Radja, menjelaskan bahwa gerakan tanah terdiri dari berbagai tipe yang dibedakan berdasarkan kecepatan pergerakan material dan kondisi kemiringan lereng. Longsor dan rayapan merupakan dua bentuk gerakan tanah yang paling sering ditemukan di wilayah dengan topografi berbukit.
Menurut Arios, longsoran umumnya terjadi secara cepat dan tiba-tiba pada lereng yang curam sehingga berpotensi menimbulkan dampak besar dalam waktu singkat. Sebaliknya, rayapan berlangsung perlahan pada lereng yang lebih landai sehingga sering kali tidak disadari masyarakat.
“Kalau lerengnya agak landai dan turun pelan-pelan itu disebut rayapan, sedangkan longsoran itu prosesnya cepat,” ujar Arios dalam program Kentongan RRI Ende, Selasa, 14 April 2026.
Ia menjelaskan, rayapan biasanya ditandai munculnya retakan tanah atau amblasan yang membentuk pola menyerupai anak tangga. Meski bergerak lambat, fenomena tersebut tetap berbahaya karena dapat merusak rumah, jalan, saluran air, dan fasilitas umum lainnya secara bertahap.
Sementara itu, longsoran maupun jatuhan material sering dipicu curah hujan tinggi dalam waktu singkat yang menyebabkan kestabilan lereng menurun. Kondisi tersebut dapat berkembang cepat menjadi bencana yang mengancam keselamatan warga jika tidak diantisipasi sejak dini.
Arios menekankan pentingnya kemampuan masyarakat mengenali tanda-tanda awal gerakan tanah, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan perbukitan. Identifikasi gejala secara cepat akan membantu proses evakuasi mandiri sekaligus mendukung upaya mitigasi yang dilakukan pemerintah.
Menurutnya, pemantauan lingkungan secara mandiri menjadi lini pertahanan pertama dalam menghadapi ancaman gerakan tanah. Kesiapsiagaan masyarakat dinilai menjadi faktor penting untuk meminimalkan kerugian dan mengurangi risiko korban jiwa saat bencana terjadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....