Jurnalis Tetap Kunci Kebenaran di Tengah Dominasi AI
- 09 Feb 2026 20:08 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Jakarta – Anggota Dewan Pengawas Radio Republik Indonesia, Mohamad Kusnaeni, menegaskan peran jurnalis tetap tidak tergantikan di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Dalam wawancra bersama RRI Labuan Bajo dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional 2026, Kusnaeni menyebut AI merupakan “pisau bermata dua” bagi dunia jurnalistik. Di satu sisi, teknologi ini membantu mempercepat kerja jurnalis dalam mengakses data dan informasi awal, terutama dari media sosial.
Namun di sisi lain, AI juga berpotensi melahirkan fenomena deep fake atau manipulasi secara digital menggunakan kecerdasan buatan (AI). Informasi yang salah dapat dianggap benar jika terus-menerus dimasukkan ke dalam sistem berbasis big data.
“AI tidak punya etika, tidak punya hati, dan tidak memiliki tanggung jawab sosial. Di sinilah jurnalis menjadi penentu akhir mana fakta dan mana manipulasi,” tegasnya.
Kusnaeni menekankan bahwa verifikasi merupakan ruh jurnalisme yang tidak dapat digantikan mesin. Etika dan integritas menjadi pembeda utama antara produk jurnalistik dengan konten manipulatif yang beredar di ruang digital.
Ia juga mengingatkan pentingnya literasi digital bagi masyarakat. Menurutnya, pers memiliki tanggung jawab besar untuk mengedukasi publik agar tidak mudah terjebak hoaks dan informasi bombastis yang tidak memiliki dasar kuat.
“Jika sebuah informasi terasa sensasional tetapi tidak diberitakan media arus utama seperti RRI, TVRI, atau Antara, maka kebenarannya patut dipertanyakan,” katanya.
Ia menyimpulkan, pers yang sehat adalah pers yang mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi, namun tetap teguh menjaga kode etik, integritas, dan keberpihakan pada kepentingan publik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....