Anak Palsukan Usia, Platform Diminta Deteksi Perilaku
- 08 Feb 2026 14:28 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengungkapkan praktik pemalsuan usia oleh anak-anak saat mendaftar di platform digital menjadi persoalan serius dalam perlindungan anak di ruang digital. Kondisi tersebut membuat anak berpotensi terpapar konten dewasa karena sistem platform masih banyak bergantung pada deklarasi usia semata.
Hal itu disampaikan Nezar Patria saat menyampaikan keynote speech dalam Focus Group Discussion bertajuk Upaya Bersama, Wujudkan Masa Depan Digital yang Ramah Anak di Jakarta Pusat, Selasa, 3 Februari 2026. Menurutnya, ketika anak memalsukan usia dan sistem menganggap mereka sebagai pengguna dewasa, maka konten yang tidak sesuai usia dapat dengan mudah muncul di lini masa mereka.
Nezar menegaskan platform digital tidak lagi cukup hanya mengandalkan tanggal lahir yang diinput pengguna. Ia mendorong penerapan teknologi pendeteksian usia berbasis perilaku atau age inferential sebagai solusi yang lebih adaptif. Teknologi ini memungkinkan sistem membaca kecenderungan perilaku pengguna berdasarkan pola konsumsi konten.
Menurut Nezar, melalui pendekatan tersebut, sistem dapat mengidentifikasi akun yang secara perilaku menunjukkan karakteristik anak meskipun terdaftar sebagai akun dewasa. Dalam kondisi demikian, akses terhadap konten berbahaya dapat dibatasi secara otomatis. Ia menyebut sejumlah platform global mulai menguji coba fitur ini di beberapa wilayah untuk meningkatkan keamanan pengguna anak.
Kemkomdigi, kata Nezar, mendorong Penyelenggara Sistem Elektronik mengadopsi pendekatan safety by design sebagai bagian dari implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak. Ia menegaskan perlindungan anak harus menjadi prinsip dasar dalam perancangan layanan digital, bukan sekadar kewajiban regulasi.
Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia, Hilmi Adrianto, menyambut baik arahan pemerintah tersebut. Ia mengakui dunia digital memberi manfaat edukatif bagi anak, namun risiko paparan konten tidak sesuai usia juga nyata. Menurutnya, tantangan utama industri adalah menemukan solusi teknologi yang mampu memfilter konten negatif secara efektif tanpa menghambat akses anak terhadap informasi positif dan inovasi.
Diskusi ini menjadi langkah awal penyelarasan persepsi antara pemerintah dan industri dalam merumuskan kebijakan turunan yang implementatif. Upaya tersebut diharapkan mampu menutup celah verifikasi usia yang selama ini menjadi pintu masuk konten negatif bagi anak di ruang digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....