Katsuobushi: Rahasia Umami di Balik Masakan Jepang

  • 26 Nov 2024 09:13 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Katsuobushi, atau serutan ikan cakalang kering, adalah salah satu bahan kuliner tradisional Jepang yang telah dikenal selama berabad-abad. Terbuat dari ikan cakalang yang diasapi, dikeringkan, dan difermentasi, bahan ini menjadi kunci rasa umami dalam berbagai hidangan khas Jepang seperti dashi, okonomiyaki, dan takoyaki.

Sejarah katsuobushi bermula pada abad ke-14, ketika nelayan Jepang mengawetkan ikan cakalang agar tahan lama selama perjalanan. Pada abad ke-17, teknik fermentasi ditambahkan untuk meningkatkan rasa dan daya simpan. “Katsuobushi tidak hanya simbol pengawetan makanan, tetapi juga mencerminkan budaya Jepang yang menghargai rasa alami,” ujar Prof. Haruko Sasaki dari Kyoto University.

Harga katsuobushi di Jepang berkisar antara ¥500 hingga ¥3.000 per 100 gram (Rp55.000 hingga Rp350.000), tergantung kualitasnya. Jenis premium yang digunakan di restoran mewah bisa mencapai harga lebih tinggi. Meski bisa dimakan langsung, katsuobushi lebih sering digunakan sebagai bahan pelengkap. “Katsuobushi adalah rahasia dari rasa dalam banyak masakan Jepang,” kata Chef Taro Nakamura dari Tokyo Culinary Institute.

Proses pembuatan katsuobushi mencerminkan dedikasi tinggi dalam seni kuliner Jepang. Ikan cakalang diasapi selama beberapa minggu, dikeringkan di bawah sinar matahari, lalu difermentasi dengan jamur khusus. Dr. Masayuki Tanaka dari Osaka Food Research Center menyebutnya sebagai salah satu makanan fermentasi paling unik di dunia, dengan tekstur keras seperti kayu dan aroma khas yang menggugah selera.

Katsuobushi tidak hanya menambah cita rasa pada masakan, tetapi juga menjadi simbol budaya Jepang yang kaya akan tradisi. Hingga kini, makanan ini terus memikat perhatian para pecinta kuliner global sebagai salah satu elemen penting dalam hidangan Jepang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....