Dari Laut ke Tanah Suci, Perjuangan Amin Nelayan Disabilitas di Labuan Bajo

  • 14 Apr 2026 14:16 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Semangat untuk menunaikan ibadah haji tidak mengenal batas fisik. Hal itu dibuktikan oleh Amin H. Tanjung Tawing (52), seorang nelayan asal Kampung Air, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tetap teguh mewujudkan impiannya berangkat ke Tanah Suci meski memiliki keterbatasan pendengaran dan bicara.

Bersama sang istri, Ice Ishaka Tayeb (50) yang sehari-hari menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga, Amin masuk dalam daftar 66 Calon Jamaah Haji (CJH) asal Kabupaten Manggarai Barat yang dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci tahun ini.

Perjalanan Amin dan istri menuju Baitullah bukanlah hal mudah. Sejak kecil ia bekerja sebagai nelayan bagang, menggantungkan hidup dari hasil laut. Seiring waktu, ketekunannya membawanya beralih usaha dari bekerja di keramba jaring apung menjadi pengemudi kapal wisata di Labuan Bajo.

Meski hanya dapat berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, Amin dikenal ramah dan tekun. Keramahannya membuat banyak wisatawan terkesan. Dari hasil bekerja sebagai kapten kapal wisata itulah, Amin mulai menabung sedikit demi sedikit demi mewujudkan cita-cita berhaji.

“Awalnya Bapak sempat takut karena kondisinya yang sulit berkomunikasi, tapi saya yakinkan bahwa selama ada niat, pasti ada jalan. Kami menabung sedikit demi sedikit dari hasil melaut,” ujar Ice Ishaka, saat ditemui di gedung Pusat Layanan Haji dan Umrah Kantor Kementrian Agama Manggarai Barat, Selasa 14 April 2026.

Dalam proses persiapan keberangkatan haji, Ice memegang peran penting sebagai pendamping utama suaminya. Ia menjadi penghubung bagi Amin dalam memahami materi manasik haji, termasuk menjelaskan tata cara ibadah yang disampaikan petugas.

Dengan penuh kesabaran, Ice menerjemahkan setiap arahan agar Amin dapat memahami seluruh rangkaian ibadah yang akan dijalani di Tanah Suci nanti.

Pasangan Amin dan Ice merupakan bagian dari 66 CJH Manggarai Barat yang berasal dari lima kecamatan. Kecamatan Komodo menjadi penyumbang jamaah terbanyak, yakni 53 orang, disusul Lembor enam orang, Macang Pacar empat orang, Boleng dua orang, dan Lembor Selatan satu orang.

Secara keseluruhan, jumlah jamaah perempuan tercatat 34 orang, sedikit lebih banyak dibandingkan laki-laki yang berjumlah 32 orang.

Kisah Amin menjadi inspirasi bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk memenuhi panggilan ibadah. Dengan kerja keras, ketekunan, dan dukungan keluarga, impian menuju Baitullah akhirnya dapat terwujud.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....