Penulis Muda Bagikan Proses Kreatif lewat Tulisan Inspiratif
- 16 Apr 2026 13:57 WIB
- Ende
Poin Utama
- Yosi Fernandez mulai menulis sejak 2019 saat kuliah
- Buku pertama dirilis tahun 2022 di masa pandemi
- Tulisan tetap relevan di era konten digital
- Writers block dianggap bagian dari proses kreatif
- Buku kedua lebih kompleks dengan ilustrasi visual
- Pesan: menulis jujur dan jadikan karya sebagai jejak kehidupan
RRI.CO.ID, Jakarta - Program Muda Kreatif Pro Dua RRI Ende mengangkat tema “Kreatif Lewat Tulisan” dengan menghadirkan Yosi Fernandez sebagai narasumber, Jumat, 20 Maret 2026. Perbincangan ini membahas proses kreatif menulis puisi dan buku, serta relevansinya bagi generasi muda di era digital.
Yosi Fernandez mengungkapkan perjalanan awalnya menjadi penulis dimulai pada 2019 saat menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada. Dari pengamatan sederhana dan pengalaman personal, ia mulai menuangkan ide menjadi tulisan hingga akhirnya merilis buku pertamanya pada 2022, di tengah situasi pandemi.
Dalam diskusi tersebut, Yosi menilai bahwa tulisan tetap memiliki kekuatan meskipun tren konten digital kini didominasi video pendek. Ia menyebut puisi dan tulisan dapat diadaptasi menjadi caption atau video singkat, tanpa kehilangan makna dan “nyawa” yang terkandung di dalamnya.
Terkait tantangan menulis, Yosi memiliki cara pandang berbeda terhadap kondisi writers block. Ia menganggapnya sebagai bagian dari proses kreatif, sehingga memilih berhenti sejenak untuk mencari inspirasi baru, dibandingkan memaksakan diri menulis tanpa arah.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya menyikapi kritik secara bijak dalam berkarya. Kritik yang membangun diterima sebagai bahan evaluasi, sementara komentar bernuansa negatif tanpa dasar dipilih untuk diabaikan demi menjaga fokus berkarya.
Saat ini, Yosi tengah menyiapkan buku keduanya yang disebut lebih kompleks dibanding karya sebelumnya. Proses kreatifnya melibatkan kolaborasi ilustrasi visual yang harus selaras dengan puisi, dengan beberapa judul seperti “Ikhlas yang Paling Tak Mungkin” dan “Pilu di Penghujung Waktu”.
Di akhir perbincangan, Yosi menegaskan prinsip menulis sebagai bentuk ekspresi diri yang jujur, bukan sekadar mengikuti tren demi popularitas. Ia mengajak penulis muda untuk terus meramu pengalaman hidup menjadi karya, karena tulisan diyakini mampu menjadi jejak yang abadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....