Herto Bastian Abul Angkat Realitas Sosial lewat Musik

  • 05 Sep 2026 15:43 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Herto Bastian Abul menghadirkan Caca Laku Lelon, single berbahasa Manggarai yang merekam realitas sosial.
  • Herto menggunakan tiga bahasa, yakni Indonesia, Inggris, dan Manggarai, sebagai identitas bermusik.
  • Single Apa Masalahnya mengangkat isu diskriminasi, rasisme, dan perbedaan warna kulit atau fisik.
  • Herto mendorong musisi muda NTT terus belajar, mengamati kehidupan, serta memanfaatkan teknologi digital.

RRI.CO.ID, Jakarta - Musisi muda asal Nusa Tenggara Timur, Herto Bastian Abul, menghadirkan realitas sosial melalui karya musik berbahasa Manggarai. Single terbarunya, Caca Laku Lelon, mengangkat persoalan perselingkuhan, kemarahan, serta suara perempuan yang kerap disalahkan.

Herto menjelaskan Caca Laku Lelon berarti “satu-satu saya amati atau lihat” dalam bahasa Manggarai setempat. Lagu tersebut dikerjakan sekitar Januari, bersamaan dengan proses produksi karya lainnya dalam waktu relatif singkat.

“Kreativitas tanpa identitas itu hampa,” ujar Herto saat membahas pentingnya budaya dalam perjalanan bermusiknya sebagai musisi muda di Pro Dua RRI Ende, Rabu 5 Agustus 2026 . Ia memadukan bahasa Indonesia, Inggris, dan Manggarai sebagai identitas yang memperkuat karakter karya musiknya.

Single tersebut kemudian memunculkan beragam respons publik, mulai dari pujian hingga kritik terhadap penggunaan frasa tertentu. Herto menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat lirik yang dianggap mengganggu pendengar ketika karya tersebut diputar pada ruang publik.

Selain Caca Laku Lelon, Herto menghadirkan Apa Masalahnya dengan nuansa middle-to-up beat yang mengangkat diskriminasi dan rasisme. Lagu itu terinspirasi pengalaman berinteraksi dengan komunitas di Amerika Serikat serta Jakarta dan videonya direkam di Padang Mausui.

Dalam proses produksi, Herto menggandeng tim Mokmok Production bersama Benito Siahaan serta manajemen Dckets International. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upayanya memperluas jangkauan karya sekaligus membuka ruang pengembangan musik daerah NTT.

“Jangan pernah berhenti belajar dan mengamati kehidupan karena kehidupan selalu menyediakan sumber inspirasi,” katanya kepada musisi muda NTT. Ia juga mendorong pemanfaatan platform digital dan teknologi agar karya musisi daerah mampu menjangkau pendengar lebih luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....