George R.R. Martin Berjuang Lawan Depresi di Usia Senja
- 05 Agt 2026 08:42 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Amerika - Penulis legendaris George R.R. Martin berjuang lawan depresi di usia senja akibat berbagai tekanan hidup. Pencipta semesta Game of Thrones ini melewati tahun yang penuh gejolak emosional antara kesedihan mendalam dan puncak karier.
Dilansir dari Entertainment News, Selasa, 4 Agustus 2026, sang novelis membagikan curahan hatinya melalui unggahan blog pribadi. "Tahun ini sungguh penuh tekanan, banyak hal terjadi hingga membuat saya merasa sangat kewalahan," kata Martin meratapi kondisinya.
Sastrawan gaek tersebut menceritakan bahwa kehilangan beberapa kawan karib menjadi salah satu mimpi buruk terbesarnya tahun ini. Ia menyadari bahwa bertambah tua bukanlah fase yang menyenangkan meski masih ada sejumlah kebahagiaan luar biasa menghampiri hidupnya.
Di tengah masa kelam, serial prekuel A Knight of the Seven Kingdoms justru berhasil memborong sembilan nominasi penghargaan Emmy. "Saya sangat bangga dengan tim kami dan berharap kita bisa membawa pulang beberapa piala penganugerahan nanti," ujar Martin antusias.
Serial adaptasi fiksi tersebut mengisahkan petualangan seorang ksatria bernama Sir Duncan dan pengawalnya saat melintasi kejamnya tanah Westeros. Musim kedua penayangan tayangan ini dipastikan akan membawa sang ksatria menyelami rumitnya intrik politik serta interaksi kaum bangsawan elit.
Kesuksesan karya Martin di layar kaca juga diperkuat oleh penayangan musim ketiga serial epik televisi House of the Dragon. Kelanjutan kisah tragis perebutan takhta berdarah antara Putri Rhaenyra dan Alicent Hightower ini akan segera mencapai episode puncaknya.
Ironisnya, pencapaian gemilang di ranah sinema berbanding terbalik dengan kemandekan proses penulisan buku lanjutan Song of Ice and Fire. Penggemar masih harus menelan kekecewaan karena novel The Winds of Winter belum memiliki jadwal rilis pasti setelah tertunda belasan tahun.
Sang kreator legendaris mengakui bahwa dirinya kerap kehilangan suasana hati untuk merampungkan naskah meski penerbit menjadikannya prioritas penulisan. Ia bertekad untuk segera menyelesaikan beban pikiran lain demi menuntaskan karya fiksi tersebut sebelum melangkah ke buku pamungkas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....