Kitab Sijjin & Illiyyin Tayang di Fantasia Festival
- 07 Agt 2025 12:57 WIB
- Ende
KBRN, Ende: Film horor terbaru The Book of Sijjin & Illiyyin garapan sutradara Hadrah Daeng Ratu mencuri perhatian di ajang Fantasia Festival 2025. Dilansir dari media hiburan amerika, variety (kamis (7/8/2025), film ini membawa kisah kelam tentang balas dendam seorang perempuan miskin bernama Yuli yang dipaksa hidup dalam siksaan keluarga tiri. Tanpa menjadi remake atau lanjutan dari film sebelumnya, Sijjin & Illiyyin berdiri sebagai karya orisinal yang sarat simbol religius dan teror mistis.
Cerita dimulai dari tragedi di sebuah desa, saat orang tua Yuli meninggal akibat kerasukan misterius. Sebagai anak dari istri kedua, Yuli kemudian diasuh oleh ibu tiri bernama Ambar, yang menjadikannya pembantu rumah tangga. Perlakuan kejam berlanjut hingga dewasa, saat kekuasaan keluarga diwariskan kepada Laras, anak kandung Ambar yang tak kalah bengis terhadap Yuli.
Tanpa pertolongan dari orang sekitar, Yuli akhirnya mencari bantuan dukun lokal untuk mengutuk keluarganya melalui ritual ilmu hitam. Proses mengerikan itu mencakup penggalian mayat Ambar dan penyiksaan jenazahnya demi menebar kutukan. Kutukan Yuli menjalar ke seluruh keluarga, termasuk cucu, menantu, dan karyawan setia Ambar.
Meski menyuguhkan tema klasik tentang balas dendam lewat sihir, film ini memikat penonton lewat tampilan visual yang kuat dan ritme naratif yang intens. Yuli digambarkan berubah drastis dari gadis tertindas menjadi sosok misterius yang mengendalikan kutukan. Namun, kritikus mencatat minimnya pendalaman karakter yang membuat transformasi Yuli terasa tiba-tiba dan kurang meyakinkan.
Konflik mencapai puncaknya saat Laras kerasukan dan berhadapan langsung dengan kekuatan jahat yang ditentang melalui doa-doa oleh Abuyya, seorang ulama setempat. Dalam ketegangan antara jin dan iman, penonton disuguhi deretan adegan mengejutkan, wajah seram, dan suara mendadak yang menjadi ciri khas horor lokal.
Meski menyimpan banyak klise film horor Indonesia, Sijjin & Illiyyin tetap tampil lebih baik dari rata-rata. Sinematografi apik Hani Pradigya, suntingan cepat Wawan I. Wibowo, serta musik menegangkan garapan Andre Harihandoyo dan Rahadian Winursito menjadi kekuatan utama film ini.
Hadrah Daeng Ratu akhirnya diganjar penghargaan Sutradara Terbaik di Fantasia Festival. Film ini menjadi bukti bahwa horor lokal masih diminati, meski penyegaran ide dan kedalaman cerita tetap menjadi tantangan besar bagi sineas Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....