Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD dari Cerita Kakak Kandung
- 22 Agt 2024 05:24 WIB
- Ende
KBRN, Ngada : Di sebuah rumah di Woloweku, Kota Ende, suasana penuh kehangatan menyelimuti saat RRI Ende bertemu dengan Simon Suban Kleden, seorang pria tua berkacamata yang menyambut dengan senyuman dan mengenakan baju batik lengan panjang.
Simon adalah kakak kandung dari Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, yang terpilih menjadi Uskup Keuskupan Agung Ende. Esok harinya, Kamis (22/8/2024), akan diadakan Misa Pentahbisan di Gereja Katedral Kristus Raja, sebuah peristiwa besar yang akan terus tercatat dalam sejarah.
Dengan suara lembut dan penuh kerendahan hati, mantan Redaktur Pelaksana Media Indonesia ini mempersilakan duduk di teras rumah. Di sinilah, dia mulai bercerita tentang adiknya.
"Nama saya di surat permandian Simon Suban Kleden, tapi kalau di KTP dan dokumen lainnya Kleden Suban S.," ujar Simon, tersenyum mengenang masa lalu. Dia lalu menjelaskan, Mgr. Paulus Budi Kleden itu adiknya.
Kenangan Masa Kecil yang Terbatas
Simon tidak memiliki banyak kenangan tentang masa kecil Budi Kleden karena saat usia Budi sepuluh tahun, Simon meninggalkan kampung halaman mereka di Flores ke Pulau Jawa.
Meskipun begitu, kisah tentang Budi kecil ia dengar dari para guru, biarawan, dan biarawati yang pernah bertugas di Flores Timur. Dari cerita-cerita tersebut, tergambarlah sosok Budi Kleden sebagai anak yang tak berbeda jauh dari kakak-kakaknya: seorang anak yang kerap membantu ayah mereka, seorang tukang kayu.
Saat Budi Kleden menempuh pendidikan di Seminari Tinggi di Ledalero, kenangan itu berlanjut. Meski sudah bersekolah jauh, setiap kali pulang liburan ke Flores Timur, Budi Kleden tetap setia membantu sang ayah membuat beragam kerajinan kayu. Sebuah pekerjaan yang bagi banyak orang mungkin biasa saja, namun memiliki makna mendalam bagi mereka yang menjalaninya.
Kabar Mengejutkan dari Kupang
Kisah Budi Kleden tidak berhenti di sana. Ketika Simon berbicara tentang pertama kali menerima kabar adiknya terpilih sebagai uskup, nada suaranya berubah, menandakan betapa momen itu menggetarkan hati. Pada 25 Mei 2024, Simon menerima tautan dari adiknya yang lain, Ince, yang tinggal di Kupang. "Dia kirim link Komsos KAE (Keuskupan Agung Ende) Ada lima romo berdiri di situ. Saya tanya Ince ini momen apa? Dia bilang No Tuan, terpilih jadi Uskup Ende, adik ini panggil dia No Tuan," kata Simon, mengenang momen itu.
Awalnya, Simon merasa terkejut. Ia bahkan meminta Ince untuk tidak menyebarkan informasi tersebut. Namun, rasa penasaran Simon tidak berhenti di situ. Pastor parokinya di Bekasi juga memberitahunya tentang penunjukan Budi Kleden sebagai Uskup Agung Ende. Simon yang hanya tahu bahwa Budi Kleden menjabat sebagai Superior Jenderal SVD, tak dapat menyembunyikan rasa harunya.
Harapan dari Seorang Kakak
Sebagai seorang kakak, Simon mengungkapkan perasaan haru akan tanggung jawab besar yang kini diemban adiknya. "Menjadi Uskup tentu lebih berat tantangannya ketimbang menjadi Superior Jenderal SVD," ungkap Simon. Meski demikian, dia yakin bahwa dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, Mgr. Paulus Budi Kleden dapat membawa hal baru bagi Keuskupan Agung Ende.
Di akhir perbincangan, Simon berharap agar adiknya tetap menjadi sosok yang rendah hati dan setia pada jati dirinya. "Dia harus menjadi panutan bagi umat dan biarawan-biarawati dan jangan sampai meninggalkan siapa itu Budi," pesan Simon dengan suara penuh makna. "Waktu penyambutan dia (Mgr. Paulus Budi Kleden SVD) juga bilang, inilah saya, hati saya, jiwa saya, maksudnya terimalah dia apa adanya. Dia juga mempersembahkan dirinya apa adanya," ujar Simon. (Reporter RRI Ende)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....