Darah, Benih dan Doa: Tradisi Lak Ntaun yang Tetap Hidup di Kampung Pata

  • 04 Okt 2026 05:43 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Timur – Di bawah naungan pohon beringin tua, warga Kampung Pata, Desa Compang Congkar, Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggarai Timur, kembali berkumpul di Natas Pata, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Dengan balutan busana adat baju putih, kain songke, dan topi songke khas Manggarai Timur, warga mengikuti ritual adat dengan khidmat sebagai wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur atas berkah panen.

Tempat yang disakralkan itu menjadi saksi berlangsungnya ritual adat Lak Ntaun, sebuah tradisi tahunan untuk mensyukuri hasil pertanian, memohon berkat, sekaligus merawat hubungan dengan leluhur.

Bagi masyarakat Pata, Oktober bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender. Bulan ini memiliki makna tersendiri sebagai waktu untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil usaha dan rezeki yang diterima sepanjang tahun.

Melalui Lak Ntaun, warga kembali meneguhkan ikatan antara manusia, alam, Tuhan Yang Maha Esa, dan para leluhur yang diyakini sebagai bagian penting dari kehidupan adat.

Kepala Suku Tua Teno Pata, Fridus Dusin, menjelaskan bahwa ritual tersebut dilaksanakan setiap tahun pada Oktober. Tradisi ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang terus dipertahankan di tengah perubahan zaman.

“Kegiatan ini kita laksanakan setiap tahun di bulan Oktober. Karena bulan Oktober adalah bulan berkah bagi masyarakat Kampung Pata. Awal bulan September kita sudah melakukan penanaman hasil pertanian kembali,” kata Fridus.

Lebih dari sekadar perayaan setelah panen, Lak Ntaun menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengingat kembali perjuangan para leluhur dalam menjaga kehidupan dan memenuhi kebutuhan keluarga. Nilai-nilai yang diwariskan itu terus dirawat agar tidak terputus di tengah perkembangan zaman, terutama bagi generasi muda.

Fridus menilai, keberlangsungan ritual adat tersebut merupakan wujud kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya. Melalui tradisi ini, generasi penerus diajak memahami bahwa kehidupan hari ini tidak terlepas dari perjuangan dan nilai-nilai yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu.

“Ini adalah wujud kepedulian kami untuk merawat nilai-nilai budaya serta untuk kembali mengingat perjuangan nenek moyang dalam memperoleh hasil yang baik,” ujarnya.

Rasa syukur yang diungkapkan dalam *Lak Ntaun* juga tidak terbatas pada hasil pertanian. Kesehatan, keselamatan, kedamaian, dan kebersamaan menjadi bagian dari berkat kehidupan yang patut disyukuri.

Ketua Panitia Pelaksana, Romi Kandra, menjelaskan bahwa ritual tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk merefleksikan berbagai pengalaman selama setahun, termasuk jerih payah dalam bekerja serta tantangan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

“Lak Ntaun ini adalah sebuah proses mensyukuri segala bentuk hasil dan jerih payah yang pernah kita peroleh, serta segala tantangan kehidupan seperti kesehatan dan rezeki yang patut kita syukuri kepada leluhur dan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tutur Romi.

Dalam rangkaian ritual, warga juga menyampaikan harapan untuk menjalani tahun berikutnya dengan kehidupan yang lebih baik. Doa dipanjatkan agar seluruh masyarakat Kampung Pata senantiasa memperoleh kesehatan jiwa dan raga, kelancaran rezeki, serta hasil pertanian yang membawa kesejahteraan bagi keluarga.

Harapan itu menjadi bagian penting dari Lak Ntaun. Warga tidak hanya menengok hasil yang telah diperoleh, tetapi juga mempersiapkan diri untuk kembali menanam, bekerja, dan menghadapi berbagai tantangan pada musim berikutnya.

Salah satu bagian ritual yang sarat makna ditandai dengan persembahan seekor babi kepada leluhur. Dalam prosesi tersebut, darah babi dicampurkan dengan berbagai benih tanaman sebagai bagian dari tata cara adat yang diwariskan secara turun-temurun.

“Kita persembahkan kepada leluhur dengan satu ekor babi. Darah babi yang telah disembelih tersebut kita campurkan dengan segala macam benih tanaman,” jelas Romi.

Di balik rangkaian persembahan dan doa, terdapat pesan sosial yang menjadi inti dari kehidupan masyarakat Pata. Lak Ntaun juga menjadi momentum untuk memulihkan hubungan antarwarga, menyelesaikan perselisihan, dan saling memaafkan atas kesalahan yang mungkin terjadi sepanjang tahun.

Bagi masyarakat setempat, keberlimpahan hasil bumi akan terasa lebih bermakna apabila kehidupan bersama tetap dilandasi kedamaian. Karena itu, warga diajak meninggalkan perselisihan dan membuka lembaran baru dengan hati yang bersih.

Romi menekankan pentingnya sikap saling memaafkan sebagai pesan utama yang diwariskan melalui tradisi tersebut.

“Kita harus saling memaafkan. Eme manga salah oke one waes laud agu leso sale. Itu makna inti dari acara Lak Ntaun. Itu adalah goet yang ada di Kampung Pata,” ungkapnya.

Pada akhirnya, Lak Ntaun bukan semata-mata ritual untuk merayakan hasil panen. Di Natas Pata, tradisi ini menjadi pengingat bahwa rasa syukur perlu berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap leluhur, kepedulian terhadap alam, dan kesediaan menjaga perdamaian di antara sesama.

Dari Kampung Pata, warisan itu terus diteruskan: merawat budaya, menjaga persaudaraan, dan menyambut musim tanam berikutnya dengan doa serta harapan akan kehidupan serta hasil panen yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....