Ketika Rumah Runtuh, Warga Teka Iku Menjaga Harapan Tetap Berdiri
- 18 Agt 2026 23:36 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Sikka – Pagi setelah gempa tidak lagi terasa seperti hari-hari biasa bagi masyarakat Desa Teka Iku, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka.
Guncangan gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026 meninggalkan jejak di banyak sudut desa. Rumah-rumah warga mengalami kerusakan. Sejumlah fasilitas rumah tangga dan bangunan lainnya ikut terdampak. Bahkan, beberapa bangunan dilaporkan hancur akibat kuatnya guncangan.
Di antara puing dan bangunan yang rusak, warga berusaha mengumpulkan kembali kekuatan.
Ada keluarga yang harus memastikan kondisi anggota keluarganya. Ada yang memeriksa rumah dan lingkungan sekitar. Ada pula yang mulai memikirkan bagaimana kehidupan harus dijalani setelah tempat tinggal dan sebagian harta benda mengalami kerusakan.
Duka itu nyata.
Namun, di tengah suasana penuh kekhawatiran, masyarakat Teka Iku memilih untuk bergerak bersama.
Pemerintah Desa Teka Iku bersama Ketua BPD, aparat desa, dan masyarakat melakukan pendataan kondisi warga serta kerusakan yang terjadi. Pendataan menjadi langkah awal untuk mengetahui dampak bencana sekaligus melihat kebutuhan masyarakat setelah gempa.
Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Tetapi langkah kecil yang dilakukan bersama menjadi penting ketika masyarakat sedang menghadapi situasi sulit.
Sebab, bencana bukan hanya tentang bangunan yang roboh.
Bencana juga tentang bagaimana manusia saling menguatkan ketika kehidupan tiba-tiba berubah.
Bagi masyarakat Nian Hubin Wolomude, kehilangan rumah, harta benda, dan kenyamanan tentu meninggalkan kesedihan. Namun, mereka tidak ingin kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga: persaudaraan.
Di tengah keterbatasan, gotong royong kembali menemukan maknanya.
| Baca juga: Di antara Ombak dan Harapan, Rafik Bertahan |
Satu tangan membantu tangan lainnya. Perhatian kepada tetangga menjadi bentuk kekuatan. Doa menjadi penguat ketika tidak banyak yang bisa dilakukan. Dan kebersamaan menjadi tempat warga bersandar ketika rasa takut masih menyelimuti.
Pemerintah desa, aparat, tokoh masyarakat, dan warga terus berupaya melakukan penanganan awal. Kehadiran mereka di tengah masyarakat memberikan pesan sederhana bahwa warga Teka Iku tidak menghadapi bencana ini seorang diri.
Di tempat lain, kepedulian juga datang dari mereka yang berada jauh dari kampung halaman.
Dari tanah rantau, doa dan dukungan terus mengalir kepada keluarga serta masyarakat Nian Hubin Wolomude. Jarak memang memisahkan, tetapi rasa memiliki terhadap kampung halaman membuat kepedulian tetap dekat.
Kini, masyarakat Teka Iku perlahan dihadapkan pada satu pekerjaan besar: bangkit.
Rumah yang rusak perlu dibangun kembali. Kehidupan yang sempat terhenti harus dimulai lagi. Rasa aman yang terguncang perlu dipulihkan.
Perjalanan itu tentu tidak mudah.
Tetapi sejarah kehidupan masyarakat selalu menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk bangkit ketika tidak berjalan sendirian.
Hari ini mungkin yang terlihat adalah rumah yang retak, bangunan yang runtuh, dan harta benda yang hilang.
Namun di balik semua itu, masih ada warga yang saling menggenggam. Masih ada keluarga yang saling menguatkan. Masih ada tangan-tangan yang bersedia membantu. Dan masih ada doa yang terus dipanjatkan.
Gempa boleh meruntuhkan bangunan, tetapi jangan sampai meruntuhkan harapan.
Dari Teka Iku, dari Nian Hubin Wolomude, masyarakat kembali mengingatkan bahwa kekuatan sebuah desa bukan hanya terletak pada kokohnya rumah dan bangunan.
Kekuatan itu juga hidup dalam persaudaraan, gotong royong, kepedulian, dan keberanian untuk bangkit bersama.
Karena pada akhirnya, ketika bencana datang dan banyak hal kehilangan bentuknya, satu hal yang harus tetap berdiri adalah kemanusiaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....