Kopi Lamaole, Emas Tersembunyi dari Tanah Solor
- 13 Agt 2026 10:52 WIB
- Ende
Poin Utama
- Kopi Lamaole dari Flores Timur menjadi upaya Rumah Hanasta mengubah persepsi tentang daerah yang selama ini dianggap kering dan tandus.
- Pemilik Rumah Hanasta, Eduardus Jong Eda Sogen, mewujudkan mimpinya membuka kedai kopi di tepi pantai dengan pemandangan Pulau Adonara dan Flores pada tahun 2021.
- Perjalanan usaha Rumah Hanasta dimulai dari kegiatan literasi anak-anak di kampung melalui Hanasta Pustaka sebelum mengembangkan bisnis kopi.
RRI.CO.ID, Flores Timur - Dari sebuah kampung yang selama ini kerap dipandang kering dan tandus, tersimpan cerita tentang kopi yang telah tumbuh sejak puluhan tahun lalu. Kopi Lamaole menjadi upaya Rumah Hanasta memperkenalkan sisi lain Solor melalui cita rasa sekaligus cerita tentang tanah, petani, dan identitas daerah.
Pemilik Rumah Hanasta, Eduardus Jong Eda Sogen, kepada RRI, Senin, 10 Agustus 2026, mengisahkan perjalanan usahanya yang bermula dari sebuah mimpi ketika masih menempuh studi di Tanah Jawa, yakni membuka kedai kopi di tepi pantai dengan pemandangan Pulau Adonara dan Flores. Mimpi tersebut baru diwujudkan pada 2021, setelah sebelumnya ia mengembangkan kegiatan literasi bagi anak-anak di kampung melalui Hanasta Pustaka.
Dalam perkembangannya, Rumah Hanasta tidak hanya menyajikan kopi, tetapi mulai mencari kopi yang benar-benar berasal dari Pulau Solor. Tantangan itu muncul ketika seorang pelanggan dari Jawa meminta kopi lokal Solor, hingga Eduardus bersama jejaringnya menemukan kopi dari Kampung Lamaole, Desa Lewatanaole, yang tumbuh di wilayah dengan ketinggian sekitar 450 hingga 500 meter di atas permukaan laut.
Menurut Eduardus, Kopi Lamaole merupakan jenis robusta yang memiliki karakter cita rasa tersendiri setelah melalui proses pengolahan yang baik. Namun, yang ingin dibangun Rumah Hanasta bukan sekadar produk kopi, melainkan narasi bahwa di balik gambaran Solor yang kering terdapat potensi komoditas yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat luas.
Kopi dari Lamaole disebut telah ada sejak 1986, tetapi keberadaannya belum banyak dikenal bahkan oleh masyarakat di luar kampung tersebut. Karena itu, setiap sajian Kopi Lamaole di Rumah Hanasta diharapkan tidak berhenti pada aktivitas menikmati minuman, tetapi juga membawa konsumen mengenal asal kopi, orang-orang yang berada di balik produksinya, serta sejarah yang melekat pada komoditas tersebut.
Upaya memperkenalkan Kopi Lama Ole kemudian mendapat ruang melalui Festival Bale Nagi pada 2024, yang dinilai menjadi momentum bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas. Bagi Eduardus, menjaga kualitas produk sekaligus mewariskan identitas Solor menjadi tantangan sekaligus peluang agar kopi lokal tidak hanya dikenal karena rasanya, tetapi juga karena cerita dari tanah asalnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....