SMPK St. Stefanus Ketang Rayakan Panca Windu, 40 Tahun Mengabdi di Tanah Manggarai
- 12 Agt 2026 12:14 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai – Empat puluh tahun bukan sekadar angka bagi SMPK Santo Stefanus Ketang. Di balik perjalanan empat dekade itu, ada jejak para guru, cerita para alumni, perjuangan peserta didik, serta harapan masyarakat yang terus tumbuh bersama sekolah di Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai tersebut.
Tahun 2026 menjadi tahun istimewa bagi Yayasan Katolik SMPK Santo Stefanus Ketang. Sekolah ini merayakan Panca Windu, sebuah penanda 40 tahun perjalanan mengabdikan diri dalam dunia pendidikan di tanah Manggarai.
Perayaan tersebut tidak hanya menjadi seremoni untuk mengenang usia sekolah, tetapi juga menjadi ruang untuk menengok kembali perjalanan yang telah dilalui, merawat hubungan dengan berbagai pihak, sekaligus menyusun langkah untuk masa depan pendidikan.
Seluruh rangkaian kegiatan akan mencapai puncaknya pada 14 Agustus 2026. Berbagai kegiatan melibatkan warga sekolah, alumni, orang tua, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta masyarakat sekitar, sehingga perayaan empat dekade ini menjadi momentum untuk mempertemukan kembali banyak cerita yang lahir dari SMPK Santo Stefanus Ketang.
Ketua Panitia Panca Windu SMPK Santo Stefanus Ketang, Adrianus Daduk, saat diwawancarai RRI SP Labuan Bajo, Senin 10 Agustus 2026, mengatakan perayaan 40 tahun menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan sekolah sekaligus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Menurutnya, kegiatan Panca Windu melibatkan pihak sekolah, peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, tokoh masyarakat, tokoh adat, orang tua atau wali murid, serta sekolah-sekolah di sekitar SMPK Santo Stefanus Ketang, mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA.
“Untuk agendanya itu ziarah ke makam para mantan guru, termasuk makam Pater Thomas selaku pendiri SMPK Santo Stefanus Ketang, seminar sehari, lomba antarsekolah dasar se-Paroki Rejeng, reuni alumni, serta pentas seni selama tiga malam pada 10 hingga 12 Agustus 2026. Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan Misa syukur sebagai puncak perayaan Panca Windu pada 14 Agustus 2026,” ujarnya.
Adrianus menjelaskan, perayaan Panca Windu mengusung tema “Menapak Jejak, Merajut Kasih, dan Membangun Masa Depan.” Tema tersebut menjadi refleksi atas perjalanan SMPK Santo Stefanus Ketang selama empat dekade sekaligus pijakan untuk memperkuat hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Menapak jejak adalah refleksi perjalanan panjang sekolah selama 40 tahun. Merajut kasih berarti membangun relasi yang baik dengan para stakeholder, khususnya alumni, pemerintah dan orang tua murid. Hasil refleksi ini menjadi referensi bagi kami untuk membangun tata kelola sekolah agar lebih maju dan tetap eksis di tengah masyarakat,” ujarnya.
Kepercayaan Masyarakat yang Terus Tumbuh
Empat dekade perjalanan juga terlihat dari kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh. Berdasarkan data sekolah, jumlah peserta didik SMPK Santo Stefanus Ketang saat ini mencapai 604 orang.
Bagi sekolah, bertambahnya jumlah peserta didik menjadi kabar baik sekaligus tantangan. Kebutuhan terhadap sarana dan prasarana pendidikan, terutama ruang kelas, ikut meningkat seiring pertumbuhan jumlah siswa.
Karena itu, pihak sekolah berharap dukungan pemerintah, para donatur, alumni, dan berbagai mitra terus mengalir untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pendidikan.
Namun, perjalanan SMPK Santo Stefanus Ketang tidak hanya berbicara tentang ruang kelas dan jumlah peserta didik. Di dalamnya terdapat upaya membentuk karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, serta nilai-nilai kehidupan yang diharapkan menjadi bekal siswa setelah meninggalkan bangku sekolah.
Salah satunya melalui Program Pagi Ceria yang dilaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Peserta didik secara bergiliran menyampaikan materi secara tematik, kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan sesi tanya jawab.
Sekolah juga mewajibkan kegiatan Pramuka sebagai bagian dari pembinaan karakter dan kemandirian siswa. Bahkan, sejumlah peserta didik SMPK Santo Stefanus Ketang telah mengikuti kegiatan berskala nasional dan pernah menjadi utusan Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Pembinaan kerohanian pun menjadi bagian penting dalam pendidikan di sekolah Katolik tersebut. Kegiatan keagamaan dilaksanakan melalui Misa bulanan. Sementara peserta didik yang tinggal di asrama paroki diwajibkan mengikuti Misa pagi dan ibadat sore di gereja.
OSIS juga menjadi ruang bagi siswa untuk belajar memimpin dan mengembangkan kreativitas melalui berbagai perlombaan antarkelas, baik pada momentum peringatan hari besar nasional maupun keagamaan.
Jejak Alumni dan Harapan Masa Depan
Memasuki usia 40 tahun, Adrianus menyebut salah satu capaian yang paling membanggakan bagi SMPK Santo Stefanus Ketang adalah keberhasilan para alumninya. Banyak lulusan sekolah tersebut yang melanjutkan pendidikan dan berkarier di berbagai bidang. Bahkan, sejumlah alumni telah mengabdikan diri sebagai imam, suster, dan bruder.
Setiap tahun, menurutnya, selalu ada peserta didik kelas IX yang mengikuti seleksi untuk melanjutkan pendidikan ke Seminari di Labuan Bajo. Di sisi lain, sekolah juga menghadapi tantangan baru seiring perkembangan teknologi digital.
Penggunaan gawai di luar pengawasan guru dan orang tua menjadi salah satu perhatian sekolah karena berpotensi mengganggu proses perkembangan anak. Adrianus menilai penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat membuat perangkat tersebut lebih banyak digunakan untuk bermain game daripada mendukung proses pembelajaran.
Karena itu, pihak sekolah menerapkan aturan yang melarang peserta didik membawa telepon seluler ke sekolah, kecuali dalam kondisi tertentu yang dinilai mendesak. Meski menghadapi berbagai tantangan, animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di SMPK Santo Stefanus Ketang masih tinggi. Peserta didik tidak hanya berasal dari wilayah sekitar sekolah, tetapi juga dari sejumlah daerah seperti Lembor, Golo Welu, dan Satermese.
Kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus tanggung jawab bagi sekolah untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. Empat puluh tahun telah berlalu. Namun, bagi SMPK Santo Stefanus Ketang, perjalanan itu belum selesai.
Adrianus berharap dukungan pemerintah, mitra, donatur, alumni, orang tua, dan masyarakat terus diperkuat sehingga SMPK Santo Stefanus Ketang mampu meningkatkan mutu pendidikan dan tata kelola sekolah serta tetap menjadi bagian penting dalam mencerdaskan generasi muda di Kabupaten Manggarai. Panca Windu ini menurutnya menjadi momentum untuk menengok jejak masa lalu, merawat kebersamaan hari ini, dan menyiapkan langkah menuju masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....