Jatuh Cinta pada Tarian Rangkuk Alu, Wisatawan Swiss Kunjungi Sanggar Wela Rana

  • 31 Jul 2026 20:42 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai – Satu keluarga asal Swiss yang terdiri atas pasangan suami istri bersama dua anak mereka mengunjungi Sanggar Seni Wela Rana pada Jumat, 31 Juli 2026. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengenal lebih dekat kekayaan seni, budaya, dan tradisi masyarakat Manggarai melalui pengalaman yang autentik.

Kedatangan keluarga tersebut disambut hangat oleh Pendiri Sanggar Seni Wela Rana, Felix Edon, bersama para anggota sanggar. Prosesi penyambutan diawali dengan pengalungan selendang, pemakaian topi songke serta kain songke khas Manggarai sebelum mereka menikmati secara langsung Tarian Rangkuk Alu.

Di momentum tersebut, kehangatan dan keakraban kian terasa saat para tamu menikmati hidangan kopi khas Manggarai beserta ragam kuliner tradisional. Momen ini sekaligus menjadi ajang perkenalan makanan khas Manggarai. Usai sambutan hangat tersebut, para tamu kemudian diajak untuk menyaksikan pertunjukan Tarian Rangkuk Alu.

Tak hanya itu, senyum dan rasa kagum terpancar dari wajah para tamu saat menikmati setiap pengalaman yang disuguhkan oleh Sanggar Wela Rana, terlebih ketika mengenal sosok Felix Edon, pemimpin sanggar, musisi, sekaligus produser musik tradisional yang dikenal luas oleh masyarakat Manggarai.

Sebelum pertunjukan dimulai, Felix menyampaikan apresiasi atas kunjungan keluarga asal Swiss tersebut. Menurutnya, kehadiran wisatawan mancanegara menjadi motivasi bagi sanggar untuk terus melestarikan sekaligus memperkenalkan seni dan budaya Manggarai kepada masyarakat dunia.

Kepada para tamu, ia menjelaskan sejarah, makna, dan filosofi tarian tradisional tersebut yang sarat dengan nilai kebersamaan, kekompakan, serta ketangkasan. Menurutnya, Tarian Rangkuk Alu berawal dari aktivitas para gadis yang menumbuk padi. Setelah pekerjaan selesai dan memasuki waktu beristirahat, mereka memanfaatkan batang bambu sebagai permainan yang kemudian berkembang menjadi salah satu tarian tradisional khas Manggarai.

"Kami memperkenalkan Rangkuk Alu sebagai bagian dari warisan budaya Manggarai. Dahulu permainan ini lahir dari aktivitas para gadis yang menumbuk padi. Saat beristirahat, muncul ide untuk bermain menggunakan bambu, dan dari situlah Rangkuk Alu berkembang," ujar Felix.

Felix mengungkapkan, keluarga asal Swiss tersebut menjadi tamu mancanegara yang ketiga berkunjung ke Sanggar Seni Wela Rana. Ia juga mengungkapkan harapannya agar Sanggar Seni Wela Rana ke depan dapat berkembang menjadi museum alat musik tradisional Manggarai.

Ia optimis bahwa keberadaan museum tersebut akan menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda dan wisatawan yang ingin mengenal lebih jauh kekayaan seni budaya Manggarai.

Setelah menyaksikan atraksi para penari, keluarga asal Swiss itu pun diajak mencoba memainkan Tarian Rangkuk Alu. Dengan penuh kesabaran, para anggota Sanggar Seni Wela Rana membimbing mereka langkah demi langkah hingga mampu mengikuti irama dan gerakan permainan bambu khas Manggarai tersebut. Suasana pun berlangsung meriah, diwarnai tawa dan antusiasme para tamu yang menikmati pengalaman budaya itu untuk pertama kalinya.

Tak hanya itu, mereka juga diperkenalkan dengan berbagai alat musik tradisional Manggarai. Dengan penuh antusias, para tamu mencoba memainkan caka tinding, memukul gong dan gendang, serta memainkan juk. Pengalaman tersebut menjadi momen yang memberikan kesan mendalam karena mereka dapat berinteraksi langsung dengan kekayaan budaya Manggarai.

Sementara itu, dalam perbincangan bersama anggota sanggar, keluarga asal Swiss mengaku baru pertama kali merasakan pengalaman memainkan Tarian Rangkuk Alu secara langsung. Mereka mengaku terkesan dengan keunikan permainan, kekompakan para penari, serta nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya.

Bagi Sanggar Seni Wela Rana, kunjungan wisatawan mancanegara seperti ini menjadi kebanggaan sekaligus peluang untuk memperkenalkan budaya Manggarai kepada dunia internasional. Melalui pengalaman yang sederhana namun penuh makna, sanggar berharap semakin banyak wisatawan yang datang untuk mengenal, mencintai, dan ikut melestarikan warisan budaya Manggarai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....