Kisah Amel dan Liani, Penjual Minuman Matcha di Festival STIE Karya Ruteng

  • 03 Jul 2026 13:16 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai - Halaman Kampus STIE Karya Ruteng-Manggarai, Kamis Sore 2 Juli 2026, mulai dipenuhi suara musik, gelak tawa dan lalu-lalang langkah kaki pengunjung yang mondar-mandir menikmati BizFest III atau festival kewirausahaan yang bakal berlangsung mulai 2–4 Juli 2026.

Di antara jejeran stan makanan dan produk kreatif yang ditampilkan, sebuah gerai kecil justru tampil bak primadona. Magnetnya sederhana tetapi daya pikatnya kuat, dua pasang tangan cekatan milik dua gadis muda yang tak pernah putus melempar senyum ramah kepada antrean pembeli.

Tangan keduanya begitu lihai meramu, mengaduk bubuk teh hijau asal Kyoto, Jepang itu hingga larut sempurna. Lalu, menaburnya dengan lapisan matcha pekat menciptakan gradasi cantik pada gelas-gelas plastik sebelum berpindah ke tangan pembeli.

Aroma khasnya pun seketika merebak, menghadirkan sensasi hangat di tengah kepungan dinginnya hembusan angin Poco Likang.

“Gulanya sedikit satu ya, Kak?”

“Tambah topping boleh?”

Percakapan kecil itu terus terdengar tanpa jeda.

Keduanya adalah Amel dan Liani, gadis muda asal Cancar - Manggarai, yang kini tengah merintis usaha minuman matcha. Keduanya adalah kreator di balik bisnis matcha yang diklaim sebagai pelopor minuman matcha murni pertama di wilayah Manggarai.

Amel bercerita, usahanya ini lahir bukan sekadar untuk mengejar omzet dari tren minuman kekinian yang timbul tenggelam. Ada segumpal kegelisahan yang diam-diam tumbuh di benaknya setelah menyaksikan geliat segelas macha di perantauan.

Pengalaman pernah mengenyam pendidikan, merasakan sensasi kota di luar Manggarai serta menyaksikan budaya nongkrong yang hidup di kalangan anak muda membuat keduanya percaya bahwa Manggarai pun layak dicoba usaha ini.

Justru keduanya melihat ada celah yang belum terisi di tanah kelahirannya. Saat dimana belum banyak anak muda Manggarai yang melirik potensi bisnis minuman kekinian seperti matcha.

Dari sanalah pemikiran itu terusik: Mengapa di Manggarai kita tidak memulainya? Sebuah pilihan yang awalnya terdengar nekat, namun dilakoni penuh keberanian, komitmen yang kuat serta niat yang bulat.

Ide itu kemudian mereka bawa pulang ke kampung halaman. Bukan dengan modal besar, bukan pula dengan bangunan mewah. Semuanya bermula dari niat yang dijaga baik-baik, meja kecil sederhana, dan keberanian untuk memulai sesuatu yang belum pernah dicoba.

"Awalnya kami pikir bakal susah, karena orang belum terlalu kenal matcha. Tapi ternyata banyak yang penasaran dan akhirnya suka,” ujar Amel.

Namun, lebih dari itu, keduanya membawa misi sosial yang mulia: membuka lapangan pekerjaan, membunuh sepi dengan kesibukan yang produktif serta terus menantang diri dengan mencari pengalaman baru.

Memulai sebuah bisnis di daerah yang belum akrab dengan rasa bitter-sweet khas teh Jepang tentu bukan perkara mudah. Alih-alih buntung, justru kini berbuah untung yang cukup. Perlahan namun pasti, usaha keduanya pun mulai berkembang dan mendapat tempat di hati pembeli.

“Sukanya lebih banyak ya, karena usaha ini memang berangkat dari niat. Kebetulan usaha kami juga masih satu-satunya di Manggarai, jadi saingannya belum banyak dan ternyata peminatnya cukup besar,” ungkapnya.

Empat bulan berjalan, roda usaha ini tentu tidak selalu berputar mulus. Ada hari-hari di mana semangat mereka diuji oleh alam; tantangan cuaca sering kali menjadi penentu utama apakah stan kecil mereka akan ramai pembeli atau justru sepi ditinggal.

"Kadang-kadang jualan sepi karena cuaca. Di situ kita suka maju mundur, mikir mau lanjut atau tidak," tutur Amel.

Setiap kali pembeli datang kembali untuk membeli gelas kedua atau ketiga, tunas keyakinan itu mulai tumbuh kembali.

Lalu juga, pilihan keduanya menempatkan stan di teras Alfamart Cancar, Kecamatan Ruteng, terbukti sebagai strategi yang cerdas. Mereka yang awalnya datang tanpa niat membeli minuman, mendadak dirayu rasa penasaran, hingga akhirnya melangkah mendekat dan memesan segelas Macha hijau yang segar.

Langkah ini berhasil menarik perhatian para pengunjung swalayan yang awalnya tidak berniat membeli minuman, menjadi penasaran dan akhirnya mampir ke stan matcha mereka.

Amel dan Liani mengaku, rencana ekspansi untuk memperluas usaha yang mereka bangun berdua sebenarnya sudah mulai dirancang. Wilayah dalam kota Ruteng pun mulai digadang-gadang menjadi lokasi berikutnya untuk mengembangkan usaha tersebut.

Namun, keduanya memilih untuk tidak terburu-buru. Format jualan yang masih mengandalkan booth bongkar-pasang serta bentangan jarak Cancar-Ruteng yang cukup menyita waktu dan energi, menjadi alasan mengapa mimpi itu belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat. Saat ini, mereka memilih bersabar sembari terus bergerilya mencari sepetak lokasi yang benar-benar jodoh bagi usaha mereka.

Sebagai Generasi Z, gawai di tangan mereka bukan sekadar alat untuk scrolling media sosial tanpa tujuan. Keduanya jeli melihat peluang, memanfaatkan algoritma Instagram dan TikTok sebagai senjata utama untuk menggebrak pasar dan mengenalkan produk mereka ke khalayak luas.

Awalnya, keduanya mengira usaha Macha ini hanya akan diminati oleh kalangan remaja dan anak muda saja. Namun di luar dugaan, pasarnya justru meluas drastis, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa kini menggandrungi racikan matcha mereka.

Bagi warga sekitar Cancar yang penasaran, segelas matcha segar ini sudah bisa dipesan secara online untuk siap diantar ke rumah, atau dinikmati langsung dengan mengunjungi stan mereka di depan Alfamart. Sementara untuk wilayah Ruteng, layanan pengantaran masih terus diupayakan secara bertahap karena keterbatasan SDM yang mereka miliki saat ini.

Ada kepuasan tersendiri ketika melihat anak-anak muda Manggarai mulai berani mencoba hal baru. Ada kebanggaan ketika usaha kecil mereka bisa membuka peluang kerja dan menjadi ruang belajar bersama.

Kini, setelah empat bulan diracik dan dipasarkan sendiri, segelas matcha bukan lagi sekadar tren minuman kekinian. Khasiatnya tak hanya sebatas penyegar dahaga, tetapi juga baik untuk kesehatan kulit, kesehatan jantung, stamina, konsentrasi, hingga menyegarkan pikiran.

Lebih dari itu, ia telah berubah menjadi simbol keberanian anak muda untuk pulang, mencoba, dan bertumbuh dari daerah sendiri.

Di balik berkembangnya usaha itu, Amel dan Liani tetap berusaha menjaga satu hal: harga yang bersahabat. Mereka sadar, bahan baku matcha berkualitas tidak murah.

Keduanya memilih menyesuaikan dengan kondisi masyarakat lokal.Karena itu, satu gelas matcha mereka dibanderol Rp 15 rb. Bagi keduanya, keuntungan bukan satu-satunya tujuan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....