Saat Mimpi Viki Hampir Padam, Seorang Polisi Menyalakan Harapan

  • 30 Jun 2026 23:33 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Setiap pagi, Viki Jemadu berangkat ke sekolah seperti anak seusianya. Mengenakan seragam SMP, remaja berusia 14 tahun itu melangkah dengan penuh semangat menuju kelas. Sulit membayangkan, dua tahun lalu langkah itu nyaris terhenti karena orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya.

Di balik kisah tersebut, ada sosok Kapolsek Lembor, Ipda Vinsen Bagus, yang memilih hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai orang tua asuh bagi Viki.

Kini, Viki bukan hanya kembali bersekolah, tetapi juga tinggal di rumah dinas Kapolsek sejak duduk di bangku kelas dua SMP.

Semua bermula pada 2024. Saat itu, seorang Bhabinkamtibmas melaporkan kepada Ipda Vinsen bahwa ada seorang anak yang terpaksa menunda sekolah karena keterbatasan ekonomi. Orang tua Viki harus memprioritaskan biaya pendidikan kakak-kakaknya, sementara Viki sendiri masih memiliki keinginan untuk mengemban pendidikan.

Mendengar kabar tersebut, Ipda Vinsen tidak ingin sekadar merasa prihatin. Ia pun meminta Bhabinkamtibmas menghadirkan Viki ke Polsek, untuk memastikan langsung apakah anak tersebut masih ingin melanjutkan sekolah.

“Anaknya sebenarnya punya kemauan sekolah. Setelah saya dengar cerita itu, saya minta Bhabinkamtibmas menghadirkan Viki. Saya tanya, ‘Masih mau sekolah tidak?’ Dia jawab, ‘Mau’. Dari situ kami panggil orang tuanya dan berusaha bantu agar dia bisa kembali bersekolah,” kenang Ipda Vinsen kepada RRI.

Meski saat itu proses penerimaan siswa baru telah berlalu, Ipda Vinsen tetap berkoordinasi dengan pihak sekolah agar Viki mendapat kesempatan belajar. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Viki diterima dan kembali mengenakan seragam sekolah. Bersama anggota Polsek Lembor, Ipda Vinsen juga membantu menyediakan seragam dan perlengkapan belajar.

Bagi perwira polisi berusia 41 tahun yang telah mengabdi selama 20 tahun di Polri itu, keputusan membantu Viki bukanlah bagian dari program khusus. Semua berawal dari rasa kemanusiaan saat melihat seorang anak yang memiliki semangat belajar, tetapi terhalang keadaan.

“Itu hanya panggilan nurani. Kami melihat anak ini semangat, tetapi terbentur keterbatasan ekonomi keluarganya. Selama kami mampu, kami ingin membantu dia melanjutkan mimpinya,” ujarnya.

Pada awalnya, Viki tinggal bersama seorang Bhabinkamtibmas ketika bersekolah di SMP Negeri 4 Welak. Setelah naik ke kelas dua dan pindah ke SMP Negeri 1 Lembor, Ipda Vinsen memutuskan membawa Viki tinggal di rumahnya.

“Sejak kelas dua sampai sekarang dia tinggal bersama saya. Kami menganggap dia sebagai adik sekaligus anak asuh Polsek Lembor,” katanya.

Kini, Viki telah duduk di kelas tiga SMP. Di rumah dinas Kapolsek, ia tidak hanya mendapatkan tempat tinggal, tetapi juga perhatian, bimbingan, dan lingkungan yang mendorongnya terus belajar demi menggapai cita-cita.

Meski saat ini begitu dekat dengan sosok Kapolsek, Viki mengaku kesan pertamanya terhadap polisi justru dipenuhi rasa takut. Saat pertama kali diminta datang ke Polsek Lembor, ia bahkan memilih menunggu di gereja yang berada di dekat kantor polisi sembari mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya menemui sang Kapolsek.

“Saya tidak mau pergi karena takut polisi. Sampai saya tunggu dulu di gereja dekat Polsek sebelum akhirnya dipanggil masuk,” ungkapnya sambil tersipu malu.

Di hadapan Kapolsek, Viki menjelaskan bahwa dirinya tidak melanjutkan sekolah karena orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan. Dari jawaban sederhana itulah kemudian menjadi awal perubahan dalam hidupnya.

Tidak lama berselang, Viki kembali mengenakan seragam sekolah. Momen itu pun menjadi salah satu kenangan yang paling membahagiakan dan berkesan baginya.

“Senang sekali waktu Pak Kapolsek bilang saya mau dibantu sekolah,” katanya.

Perlahan, rasa takut terhadap polisi berubah menjadi rasa hormat dan kagum. Kini, Viki justru bercita-cita suatu hari nanti dapat mengenakan seragam yang sama dengan sosok yang telah mengubah hidupnya.

Saat ditanya tentang cita-citanya, Viki menjawab mantap, “Saya mau jadi polisi.”

Baginya, sosok Ipda Vinsen bukan sekadar Kapolsek, melainkan sosok yang selalu membimbingnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

“Marah sedikit, tapi untuk kebaikan saya,” ujarnya.

Menjelang Hari Bhayangkara ke-80, Viki juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Kapolsek yang telah membuka kembali jalan menuju masa depannya.

“Terima kasih untuk Pak Kapolsek Lembor yang sudah membiayai saya sekolah.”

Bagi Ipda Vinsen, kisah Viki ini menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah hak setiap anak dan investasi terbesar untuk masa depan bangsa. Menurutnya, persoalan anak putus sekolah tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah, tetapi membutuhkan kepedulian seluruh elemen masyarakat.

“Pendidikan sangat penting untuk membentuk karakter dan masa depan anak-anak. Semua pihak harus peduli terhadap anak-anak yang memiliki keterbatasan mengakses pendidikan,” ujarnya.

Selama bertugas, ia masih menjumpai anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah. Sebagian terkendala ekonomi, sebagian lainnya kehilangan semangat belajar. Karena itu, ia berharap semakin banyak pihak yang bersedia hadir membantu, sekecil apa pun bentuknya.

“Di tengah keterbatasan kita, paling tidak kita memiliki kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan perhatian. Itu juga bagian dari pengabdian,” ucapnya.

Kisah Viki ini, mungkin hanya satu dari sekian banyak kisah tentang anak yang hampir kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan. Namun, dari sebuah rumah dinas Kapolsek di Lembor, secercah harapan itu muncul dan terus dipelihara.

Di sana, seorang polisi tidak hanya menjaga keamanan wilayahnya, tetapi ia juga menjaga mimpi seorang anak agar tetap hidup, hingga suatu hari nanti dapat menggapai cita-citanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....