Dari Lapangan hingga Ruang Redaksi, Perempuan Mampu Menjadi Garda Informasi

  • 29 Jun 2026 23:57 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Labuan Bajo – Di balik setiap berita yang sampai ke ruang publik, ada proses panjang yang tidak selalu terlihat. Ada langkah kaki yang menyusuri pelosok desa, ada suara yang direkam di tengah keramaian, ada catatan yang ditulis di bawah tekanan tenggat waktu. Di antara semua itu, perempuan turut mengambil peran sebagai garda terdepan penyampai informasi.

Profesi jurnalis selama ini kerap dipandang sebagai dunia yang identik dengan laki-laki. Mobilitas tinggi, jam kerja yang tidak menentu, hingga risiko saat berada di lapangan sering dianggap menjadi tantangan yang sulit dijalani perempuan. Namun, anggapan tersebut perlahan dipatahkan oleh banyak jurnalis perempuan yang terus menunjukkan profesionalisme dan dedikasinya.

Hal itu mengemuka dalam dialog interaktif di RRI Labuan Bajo yang menghadirkan tiga jurnalis perempuan Manggarai Barat, yakni Epy Wahab, Vera Bahali, dan Tari Rahmaniar. Ketiganya berbagi pengalaman tentang dinamika profesi, tantangan di lapangan, hingga makna menjadi perempuan di dunia jurnalistik.

Bagi mereka, menjadi jurnalis bukan sekadar mengejar kecepatan menyampaikan informasi. Lebih dari itu, profesi ini adalah tentang menghadirkan fakta secara utuh sekaligus menjaga kepercayaan publik.

"Menjadi jurnalis perempuan memang memiliki tantangan tersendiri. Kami sering berada di lapangan hingga malam hari, menghadapi berbagai situasi yang tidak selalu mudah. Namun, selama bekerja secara profesional, berpegang pada kode etik, dan menjaga integritas, perempuan mampu menjalankan tugas jurnalistik dengan baik," ujar Epy Wahab.

Di kawasan seperti Labuan Bajo yang berkembang sebagai destinasi pariwisata super prioritas, dinamika pemberitaan berlangsung hampir tanpa jeda. Aktivitas pemerintahan, pembangunan, pariwisata, hingga persoalan sosial menjadi bagian dari liputan sehari-hari yang menuntut kesiapan fisik maupun mental.

Tidak jarang mereka harus menempuh perjalanan menuju wilayah terpencil, menghadapi cuaca yang tidak bersahabat, atau meliput isu-isu sensitif yang membutuhkan kehati-hatian. Dalam kondisi seperti itu, keberanian menjadi modal penting, tetapi empati tetap menjadi kekuatan utama.

Menurut Vera Bahali, perempuan membawa perspektif yang berbeda dalam proses peliputan.

"Perempuan memiliki kepekaan dan empati yang menjadi nilai tambah dalam proses peliputan. Ketika mewawancarai korban kekerasan, perempuan, anak-anak, atau kelompok rentan lainnya, pendekatan yang humanis sering kali membuat mereka lebih terbuka dalam menyampaikan cerita," katanya.

Perspektif tersebut dinilai penting karena jurnalistik bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan sisi kemanusiaan di balik setiap peristiwa. Berita tidak hanya berbicara tentang angka dan fakta, tetapi juga tentang kehidupan orang-orang yang terdampak.

Di sisi lain, menjadi jurnalis perempuan juga berarti mampu menyeimbangkan berbagai peran. Tuntutan profesi yang tidak mengenal jam kerja harus berjalan berdampingan dengan tanggung jawab dalam kehidupan pribadi maupun keluarga. Kemampuan mengelola waktu, membangun komunikasi, dan memiliki sistem pendukung menjadi bagian dari perjalanan yang tidak selalu mudah.

Meski demikian, ketiganya sepakat bahwa tantangan tersebut bukan alasan untuk membatasi langkah perempuan berkarya di dunia jurnalistik.

Bagi Tari Rahmaniar, perkembangan media digital justru membuka peluang yang semakin luas bagi perempuan untuk terlibat dalam dunia informasi.

"Saya berharap semakin banyak perempuan muda di Manggarai Barat yang tidak takut masuk ke dunia jurnalistik. Saat ini peluang terbuka sangat luas melalui media digital. Yang terpenting adalah terus belajar, menjaga integritas, dan menjadikan jurnalistik sebagai ruang untuk menyuarakan kepentingan masyarakat," tuturnya.

Di era banjir informasi seperti sekarang, keberadaan jurnalis yang berintegritas menjadi semakin penting. Tidak hanya menyampaikan berita dengan cepat, tetapi juga memastikan setiap informasi telah melalui proses verifikasi yang benar.

Perempuan telah membuktikan bahwa mereka mampu menjalankan peran tersebut dengan profesional. Dari ruang redaksi hingga garis terdepan peliputan, mereka hadir membawa perspektif, empati, sekaligus keberanian untuk memastikan publik memperoleh informasi yang akurat dan berimbang.

Di balik setiap berita yang dibaca masyarakat, selalu ada dedikasi yang mungkin tak banyak diketahui. Ada perempuan-perempuan yang memilih tetap melangkah, menembus batas, menjaga etika profesi, dan menjadikan jurnalistik sebagai ruang pengabdian bagi kepentingan publik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....