Dari Sawah Umung Menuju Mimbar Akademik Nasional: Kisah Dr. Beny Raih Gelar Doktor

  • 25 Jun 2026 21:38 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai —Malam itu, Rabu, 24 Juni 2026, suasana di Kampung Umung, Kecamatan Satar Mese, terasa begitu hangat di tengah kepungan hawa dingin. Udara pegunungan yang menusuk bersama selimut kabut pekat seolah ikut mengiringi jalannya Misa Syukuran yang digelar oleh Dr. Benediktus Jombang, S.H., M.H.

Perayaan ekaristi ini menjadi wujud syukur mendalam atas keberhasilannya meraih gelar Doktor Ilmu Hukum, sekaligus menandai dua dekade dedikasinya mengarungi dunia profesi advokat di Indonesia.

Terop acara tampak sesak dipadati oleh keluarga, sahabat, tokoh masyarakat, hingga warga kampung yang tumpah ruah. Mereka datang membawa binar kebanggaan dan rasa haru yang mendalam, merayakan pencapaian luar biasa dari seorang putra daerah yang kini berhasil mengukir sejarah baru bagi tanah kelahirannya.

Barisan ronda adat pun mulai melangkah perlahan sambil melantunkan syair tradisional Manggarai menuju altar Tuhan. Prosesi sakral itu turut diiringi penari-penari cilik yang tampil anggun dalam balutan busana adat. Di belakang barisan ronda, Dr. Beny bersama istri dan anak-anaknya berjalan khidmat mengikuti prosesi, disusul para romo yang bersiap memimpin Perayaan Ekaristi.

Namun di tengah berlangsungnya Misa Syukuran itu, listrik tiba-tiba padam. Suasana seketika gelap. Beberapa tamu saling berpandangan, sementara suara riuh anak-anak kecil mulai terdengar memecah keheningan malam.

“Jadilah cahaya dalam kegelapan agar sinarmu menerangi sekitarmu. Itu motto hidup saya,” ujar Dr. Beny dalam sambutannya usai Misa, mengenang insiden padamnya listrik saat Misa berlangsung.

Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata motivasi yang hampa. Ia lahir dan ditempa dari perjalanan panjang seorang anak petani asal Umung, Satar Mese, Kabupaten Manggarai. Sebuah refleksi mendalam dari seorang bocah yang meniti jalan hidup dari kerasnya hamparan sawah berlumpur, hingga kini berhasil melangkah tegap menuju ruang-ruang sidang hukum berskala nasional.

Mati lampu malam itu seperti menjadi simbol perjalanan hidupnya sendiri, tentang perjuangan menyalakan cahaya di tengah segala keterbatasan.

Dr. Beny bukan lahir dari keluarga berada. Ia tumbuh di lingkungan sederhana, dibesarkan dengan kerja keras dan disiplin hidup orang kampung. Namun sejak kecil, satu pesan terus ditanamkan ayahnya, mendiang Bapak Fransiskus; sekolah adalah jalan mengubah hidup.

Kilat Akademik Sang Anak Petani

Perjalanan akademik Beny terbilang luar biasa dan sarat prestasi. Ia menyelesaikan studi S1 di Untag Surabaya hanya dalam waktu tiga tahun. Tak puas sampai di situ, gelar S2 dari Universitas Muhammadiyah Jakarta berhasil ia sabet hanya dalam tempo 1,5 tahun—mendahului rekan-rekan seangkatannya.

Puncaknya, dalam menempuh gelar Doktor (S3), Beny berhasil menyelesaikannya dalam waktu 2 tahun 2 bulan, sekaligus dinobatkan sebagai lulusan terbaik di tingkat fakultas dan universitas.

Sebagai bukti bahwa dirinya bukan "Doktor abal-abal", Beny telah melahirkan sedikitnya 7 buku ber-ISBN yang kini resmi menjadi referensi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dalam momentum bahagia itu, ia juga membagikan karyanya kepada perwakilan almamater masa kecilnya, termasuk SD Inpres Golo Ponggeraw, SMP Sinar Ponggeok, dan SMA Negeri 2 Ruteng.

Cambuk Pesan sang Mendiang Ayahanda

Di balik kegigihannya, ada bayang-bayang sang ayah, mendiang Bapak Fransiskus, yang tiada henti mendesaknya untuk sekolah setinggi-tingginya. Dr. Beny mengenang, sebelum sang ayah berpulang pada tahun 2018, dirinya sempat mengeluh lelah karena harus membagi waktu antara kuliah dan mengurus anak. Namun, lecutan motivasi sang ayah membuatnya kembali bangkit pada tahun 2022 hingga berhasil lulus di tahun 2024 ini.

"Bapak Frans selalu mendesak saya. Kalau bisa kamu sekolah sampai selesai. Jangan S2 saja, harus S3. Saya sempat mengeluh capek karena harus bagi waktu urus anak dan kuliah. Namun, dorongan beliau membuat saya bangkit hingga bisa berdiri di titik ini," kenang Beny dengan mata berkaca-kaca.

Bagi Dr. Beny, kata-kata mendiang Fransiskus adalah jimat yang ia bawa merantau ke tanah orang. Ketika lelah mendera di tengah kerasnya perjuangan bangku kuliah, ingatan akan peluh kedua orang tuanya di sawah Umung selalu menjadi bahan bakar yang membakar semangatnya untuk terus melangkah.

Oleh karenanya, Gelar Doktor ini ia dedikasikan sepenuhnya untuk kedua orang tua tercintanya. Di hadapan keluarga besar, ia membuktikan bahwa latar belakang sebagai anak petani bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah batu pijakan.

" Saya buktikan itu di depan keluarga besar Umung. Saya ingin menjadi inspirasi bagi anak petani. Tidak selamanya anak petani itu tidak berhasil. Jika kita berani memulai, kita pasti bisa," tegasnya, disambut tepuk tangan gemuruh.

Dua Dekade Membela Kaum Tertindas di Tanah Papua

Kiprah Dr. Beny di dunia nyata tak kalah mentereng. Selama kurang lebih 20 tahun, ia mendedikasikan dirinya sebagai advokat di Tanah Papua. Ia dikenal vokal dan kritis terhadap isu penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Mulai dari masyarakat kecil yang tak punya suara, hingga perkara sengketa pilkada para gubernur dan bupati di Mahkamah Konstitusi berhasil ia tangani.

Bagi Beny, ruang sidang bukanlah sekadar panggung perdebatan pasal, melainkan tempat membela kaum kecil dan lemah yang hak-haknya terpinggirkan. Langkahnya telah menembus ruang-ruang sidang hukum berskala nasional, bahkan hingga memenangkan perkara sengketa pilkada para gubernur dan bupati di Mahkamah Konstitusi.

Ia selalu mengingat pesan hatinya: ketika dada bergetar melihat ketidakadilan, maka saat itulah hukum harus diperjuangkan.

Di sela kesibukannya sebagai pengacara dan dosen di salah satu Univrsitas di Sorong-Papua, Dr. Beny menyadari ada harga mahal yang harus dibayar, yakni waktu bersama keluarga. Ia sering kali terpaksa meninggalkan istri dan anak-anaknya demi menunaikan tugas kemanusiaan keliling Indonesia.

Malam itu, di akhir sambutannya, Doktor Beny memberikan penghormatan tertinggi kepada sosok yang disebutnya sebagai pilar tak terlihat dari semua kesuksesannya.

"Keberhasilan seorang suami adalah doa dan dukungan istri. Terima kasih kepada istriku tercinta, yang doanya selalu tersembunyi di belakang perjuangan saya," tuturnya.

Namun, bagi Dr. Beny, gelar Doktor bukanlah akhir dari pendakian akademiknya. Di hadapan ratusan pasang mata yang menyimak kisah hidupnya , ia melayangkan pandangan jauh ke depan, merajut mimpi baru yang siap ia kejar dengan kegigihan yang sama.

"Saya mohon doa Bapak Ibu sekalian, semoga ke depannya saya bisa menjadi Profesor. Karena itu adalah puncak tertinggi berikutnya yang akan saya raih,"* ucap Dr. Beny,

Impian itu bukan sekadar ambisi pribadi yang muluk, melainkan sebuah ikrar bahwa seorang anak yang lahir dari rahim Kampung Umung-Satar Mese mampu dan berhak bermimpi hingga ke puncak tertinggi dunia akademik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....