Wangi Dupa Umat Hindu untuk Kerukunan di Tanah Congka Sae
- 18 Jun 2026 08:12 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai – Dari tangan-tangan umat Hindu di Ruteng yang terkatup rapat, harum kepulan asap dupa yang menyeruak, mengiringi persembahan sesajian serta lantunan doa-doa suci yang meliturgi dalam suasana penuh khusyuk dan khidmat. Nuansa spiritual itu kian terasa ketika gemerincing musik gamelan Bali, denting gong serta tabuh gendang yang bertalu syahdu, menghadirkan harmoni spiritual yang menenangkan jiwa.
Pemandangan religius ini tidak sedang terjadi di Pulau Dewata, melainkan di Bumi Nucalale, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, saat umat Hindu di Ruteng melaksanakan persembahyangan Hari Raya Galungan di Pura Agung Waso Giri Natha Ruteng, Rabu 17 Juni 2026.
Di tengah hening persembahyangan itu, terselip pesan mendalam tentang harmoni persaudaraan, kerukunan yang harus terus dirawat agar senantiasa bertumbuh dan berbuah damai di tengah keberagaman masyarakat Manggarai. Galungan di tanah rantau Manggarai selalu memancarkan kisah unik tentang adaptasi dan keteguhan iman.
Bagi umat Hindu yang menetap di Manggarai, merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan) di tengah mayoritas masyarakat yang berbeda keyakinan justru semakin mempertebal rasa persaudaraan dan toleransi yang telah lama mengakar di tanah Congka Sae. Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Manggarai, I Gede Caya Widiarta, mengungkapkan bahwa inti dari kekhusyukan perayaan Hari Raya Galungan di Bumi Nucalale terletak pada perpaduan dua elemen sakral, yakni suara dan aroma.
Menurutnya, setiap denting gong dan tabuh gendang yang dimainkan para penabuh gamelan tidak sekadar menjadi pengiring perayaan Hari Galunan. Lebih dari itu, alunan bunyi yang berpadu ritmis tersebut diyakini sebagai media spiritual untuk menenangkan batin dan membersihkan pikiran dari hiruk-pikuk duniawi.
“Suara gamelan, gong, dan gendang itu bukan hanya musik biasa, tetapi bagian dari sarana spiritual umat untuk menghadirkan suasana hening, damai, dan fokus dalam berdoa,” ujarnya.
Suasana religius itu kian sempurna berkat wangi dupa yang membubung ke langit, menuju Sang Hyang Widhi Wasa yang bertahta abadi. Kepulan asap dupa perlahan menyatu dengan alunan gamelan yang menggema lembut di halaman pura, menghadirkan nuansa spiritual yang menenangkan jiwa.
Bagi umat Hindu, katanya, asap dupa bukan sekadar pelengkap persembahyangan, melainkan simbol penghantar doa sekaligus sarana penyucian alam semesta, baik bhuana alit (alam kecil dalam diri manusia) maupun bhuana agung (alam semesta). Perpaduan wangi dupa dan gemerincing gamelan menciptakan harmoni syahdu yang menghadirkan kedamaian mendalam bagi siapa saja yang mendengar dan merasakannya.
Kini, harmoni sakral antara suara gamelan dan wangi dupa itu seakan menyelipkan litani harapan agar kedamaian senantiasa tumbuh dan mengakar kuat di Tanah Congka Sae. Alunan doa-doa yang membubung dari pelataran pura seolah melintasi sekat-sekat perbedaan, membawa pesan universal tentang harmoni, toleransi dan persaudaraan yang tulus.
Di tengah keberagaman budaya dan keyakinan, getaran spiritual tersebut menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keselarasan hidup, baik dengan Sang Pencipta, sesama, maupun alam semesta yang memberi kehidupan. Tanah Congka Sae yang dikenal sarat nilai adat, persaudaraan, dan ketulusan warganya, kini kian diperkaya oleh rajutan doa-doa sakral umat Hindu yang mengalir tenang, membawa harapan tentang kedamaian yang abadi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....