Kopi Buk SDI Congkar: Ubah Filosofi Lokal Jadi Laboratorium Wirausaha di Expo Matim
- 05 Mei 2026 18:36 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Timur – Aroma kopi tumbuk manual yang khas menyeruak di antara deretan stan pada gelaran Expo Pendidikan V Manggarai Timur 2026. Bukan barista profesional yang berada di balik kemudi rasa, melainkan tangan-tangan mungil siswa SDI Congkar yang dengan terampil menumbuk biji kopi menggunakan lesung kayu tradisional.
Selama empat hari penyelenggaraan di Lapangan Fernandes Borong, 28 April hingga 1 Mei 2026, Kopi Buk SDI Congkar berhasil mencuri perhatian pengunjung. Produk ini menjadi primadona di antara 84 stan yang terdiri dari 24 sekolah penggerak, 46 angkatan guru penggerak, dan 14 UMKM.
Inisiatif ini lahir dari kegelisahan Kepala SDI Congkar, Hendrikus Nggiring. Ia menyoroti fenomena di mana masyarakat Congkar, yang merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di Manggarai Timur, justru kerap membeli kopi kemasan dari luar daerah dengan harga tinggi untuk konsumsi harian.
Melalui diskusi bersama para guru, Hendrikus memutuskan untuk mengintegrasikan potensi lokal tersebut ke dalam lingkungan sekolah. Dengan memanfaatkan lahan kebun sekolah yang telah ditanami kopi oleh siswa dan guru, program ini dirancang sebagai wadah belajar kewirausahaan sejak dini.
“Ini inisiatif saya sebagai kepala sekolah. Saya bahas bersama guru-guru karena kami sadar, Congkar juga adalah salah satu daerah penghasil kopi terbanyak di Matim. Hasil panen dijual habis, tapi untuk konsumsi pribadi warga malah beli kopi kemasan dari luar yang harganya tinggi,”ungkapnya.
Kini, Kopi Buk SDI Congkar telah resmi menjadi bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dan masuk dalam Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP). Seluruh proses, mulai dari panen, penyangraian (roasting), hingga penumbukan manual yang melibatkan siswa kelas tinggi sebagai bentuk pembelajaran aktif. “Semua siswa terlibat, tapi tergantung jenis kegiatan. Panen, sangrai, dan penumbukan hanya libatkan siswa kelas tinggi,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar keterampilan teknis, Hendrikus menekankan nilai filosofis di balik cangkir kopi. Baginya, melalui kopi, siswa belajar menikmati proses serta menghargai pahit dan manisnya perjalanan hidup. “Kopi Congkar mempunyai nilai filosofi: dari kopi kita bisa belajar menikmati proses, menerima pahit-manisnya kehidupan, serta menghargai momen sederhana bersama orang lain,” ucapnya.
Program ini juga diintegrasikan ke dalam mata pelajaran formal, seperti Matematika, di mana siswa belajar menghitung untung-rugi, pengukuran, serta perbandingan melalui konteks kehidupan nyata.
Meski baru diluncurkan pada April 2026, antusiasme pasar terbukti luar biasa. Pada hari ketiga Expo, stok promosi sebanyak 7 kilogram ludes terjual hanya dalam waktu satu hari. Produk kemasan 250 gram yang dibanderol dengan harga Rp25.000 menjadi incaran pengunjung yang terpikat oleh keaslian kopi hasil tumbukan manual tersebut.
Keberhasilan ini membawa kebanggaan tersendiri bagi orang tua siswa. Dukungan penuh mengalir dari masyarakat Desa Compang Congkar, yang mayoritas berprofesi sebagai petani kopi.
Mereka merasa bangga melihat produk hasil bumi mereka dipromosikan ke tingkat kabupaten oleh anak-anak melalui lembaga pendidikan.
Sementara itu, menanggapi pandangan miring mengenai peran kepala sekolah dalam kegiatan niaga, Hendrikus menegaskan bahwa program ini murni untuk membangun kemandirian lembaga dan karakter siswa tanpa mencari keuntungan pribadi. Ia menjamin bahwa seluruh aktivitas kewirausahaan ini telah diatur dalam KOSP sehingga tidak mengganggu jam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Ke depan, SDI Congkar optimistis program ini dapat terus berkembang, mengingat ketersediaan bahan baku yang melimpah dari petani lokal. Hendrikus berharap sekolah lain dapat mereplikasi langkah ini untuk menumbuhkan kecintaan pada potensi daerah.
Expo Pendidikan V Manggarai Timur tahun ini terbukti telah menjadi panggung bagi SDI Congkar untuk membuktikan bahwa sekolah bukan hanya tempat menghafal teori, melainkan ruang kreatif untuk melestarikan budaya, membangun karakter, dan mendorong kemandirian ekonomi melalui kebanggaan terhadap produk lokal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....