Pengabdian Aipda Lalu Sukiman di Pelosok Manggarai Timur

  • 04 Mei 2026 18:46 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Timur - pengabdian seorang anggota polisi menjelma menjadi harapan bagi warga yang hidup dalam keterbatasan. Aipda Lalu Sukiman, anggota Polri yang bertugas sebagai Kepala Pos Polisi Elar sekaligus Bhabinkamtibmas Desa Biting, menjadi sosok yang menghadirkan harapan di tengah keterbatasan. Dirinya dikenal luas karena kepeduliannya yang melampaui tugas formal sebagai aparat negara.

Dengan kondisi medan yang sulit dan akses yang terbatas, Aipda Sukiman tidak menunggu laporan datang. Ia justru aktif menyambangi warga dari rumah ke rumah, menelusuri jalanan tanah, hingga menyeberangi sungai demi memastikan kehadiran negara benar-benar dirasakan. Pendekatan yang ia bangun bukan semata penegakan hukum, melainkan sentuhan kemanusiaan yang nyata.

Aipda Sukiman kerap memulai tugasnya dengan tas ransel sederhana berisi buku catatan, alat komunikasi, selebaran informasi, serta kotak P3K. Tanpa dukungan kendaraan dinas yang memadai, ia menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, melintasi jalan tanah, menyeberangi sungai kecil, hingga mendaki lereng curam yang belum tersentuh aspal.

Warga mengenalnya dari cerita yang menyebar dari mulut ke mulut: tentang polisi yang rela berjalan berjam-jam untuk menjenguk anak sakit, mendamaikan warga yang berselisih, hingga sekadar mendengarkan keluh kesah petani dan peternak di pelosok.

Di sinilah wajah Presisi menemukan maknanya yang paling sederhana; pada kepekaan membaca persoalan, kecepatan merespons, dan kreativitas menghadirkan solusi di wilayah yang nyaris terpinggirkan. Di Desa Legur Lai, Aipda Sukiman mendampingi Stevano Yota, balita yang lahir dengan kondisi atresia ani, kelainan bawaan tanpa lubang anus. Bagi kedua orang tuanya, Arnoldus Golo dan Natalia Suryati Dewi, kondisi itu menjadi ujian berat yang menguras harapan dan kemampuan ekonomi.

Upaya pengobatan sempat dilakukan hingga ke Kupang, namun keterbatasan biaya dan kondisi medis membuat langkah itu terhenti di tengah jalan. Dalam situasi tersebut, kehadiran Aipda Sukiman menjadi penguat. Ia datang membawa bantuan sederhana, sembako dan sejumlah uang pribadi, namun lebih dari itu, ia membawa keyakinan.

“Saya percaya, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan materi, tetapi keyakinan bahwa mereka tidak sendiri,” ungkapnya.

Di rumah berdinding bambu, ia duduk bersama keluarga, mendengar, dan menguatkan. Tangisan Stevano menjadi pengingat bahwa penderitaan tak selalu terlihat, tetapi selalu membutuhkan kepedulian.

Perjalanan kemanusiaan itu tidak berhenti di satu tempat. Bersama Babinsa dari Kodim 1612 Ruteng, ia menempuh perjalanan sekitar 150 kilometer menuju Kampung Mbawar untuk mengantarkan kursi roda kepada Petrus Febrian Tempur, pemuda 19 tahun yang sejak lahir tidak dapat berjalan.

Langkah serupa ia tempuh sejauh 90 kilometer ke Desa Kaju Wangi, membantu Astrin Karmel Fia, remaja yang juga mengalami kondisi medis serupa. Dengan sepeda motor tuanya, ia menembus medan berat demi memastikan bantuan sampai kepada yang membutuhkan.

Bagi warga, kendaraan itu bukan sekadar alat transportasi, tetapi simbol kepedulian yang bergerak dari satu kampung ke kampung lain. “Jangan pernah menyerah. Pertolongan bisa datang dari arah yang tidak diduga,” ujar Sukiman kepada keluarga yang ia temui.

Kehadirannya di tengah masyarakat menjadikannya lebih dari sekadar aparat. Ia adalah pelayan, pendengar, sekaligus sahabat. Sosok yang dipanggil bukan karena jabatan, tetapi karena ketulusan.

Dedikasi tersebut mendapat apresiasi dari Kapolres Manggarai Timur, AKBP I Ketut Widiarta. Dalam sebuah upacara penghargaan, ia menegaskan bahwa pengabdian Aipda Sukiman mencerminkan nilai Polri yang sesungguhnya. “Penghargaan ini diberikan bukan karena capaian administratif, tetapi karena pengabdian yang melampaui panggilan tugas. Ia hadir sebagai pelayan, pendengar, dan sahabat masyarakat,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan sarana dan beratnya medan geografis, Aipda Lalu Sukiman membuktikan bahwa pengabdian tidak diukur dari fasilitas, melainkan dari ketulusan. Warga percaya: jika ada tangisan di balik bukit, jika ada harapan yang hampir padam, maka selalu ada jalan yang akan terbuka. Di antara jalan-jalan terjal itu, nama yang terus disebut adalah Aipda Lalu Sukiman, ibarat malaikat penolong dari pelosok terpencil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....