Beldis Salestina, Kartini dari Saga yang Menjawab Panggilan Leluhur

  • 23 Apr 2026 12:20 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Ada orang-orang yang pergi sejauh mungkin untuk menemukan dirinya. Namun ada pula yang justru harus kembali untuk benar-benar mengenal siapa dirinya. Kisah itu hidup dalam perjalanan seorang perempuan (Kartini) dari Kampung Saga—perjalanan yang tidak sekadar soal tempat, tetapi tentang panggilan yang tak bisa dihindari.

Dalam dialog spesial Hari Kartini, Selasa 21 April 2026 bersama RRI Ende, Beldis Salestina berbagi kisah tentang perjalanan hidup yang membawanya kembali ke akar—ke kampung, ke leluhur, dan ke tanggung jawab yang tak pernah ia rencanakan. Ia menyebutnya sederhana, namun dalam: panggilan semesta.

“Saya sudah kelayapan ke mana-mana, tapi pada akhirnya selalu kembali ke kampung. Seperti ada gerakan dalam diri yang memaksa saya harus pulang,” ujarnya. Di luar kampung, ia tak pernah benar-benar merasa nyaman. Ada kegelisahan yang terus mengikuti. Hingga akhirnya ia memutuskan pulang ke Desa Saga—dan di sanalah ketenangan itu datang.

Namun, kepulangan itu bukan sekadar kembali. Ia justru masuk ke dalam fase hidup yang penuh tanggung jawab. Hampir satu dekade terakhir, Beldis menjadi salah satu pelaku ritual sakral di komunitas adat Saga. Peran ini bukan pilihan pribadi, melainkan amanah yang ia yakini sebagai campur tangan leluhur.

“Ini bukan pilihan saya. Ini panggilan leluhur,” katanya. Ritual yang dijalankan bukan hal sederhana. Dalam satu hari, ia harus melaksanakan dua ritual utama: Kili Utabue dan Are Rega. Keduanya rumit, penuh aturan, dan hanya boleh dilakukan oleh anak perempuan dalam rumah—bukan menantu.

Saat pertama kali menerima tanggung jawab itu, rasa takut mendominasi. “Saya gemetaran. Saya pikir, sanggup tidak saya jalani? katanya sambil tertawa kecil. Ia yang terbiasa hidup bebas dan spontan, harus berubah total. Ritual menuntut kesopanan, ketenangan, dan ketulusan. Tidak ada ruang untuk setengah hati.

Tahun pertama menjadi ujian terberat. Ia harus menuruni tangga batu yang curam di ujung kampung sambil membawa sesajen—medan yang ia sebut ekstrem. Orang-orang bahkan heran melihat perubahan sikapnya yang mendadak menjadi sangat santun.

Namun, ia memahami satu hal penting: ritual bukan sekadar simbol, melainkan penjaga keseimbangan. “Kalau dilakukan asal-asalan, dampaknya bukan hanya ke diri sendiri, tapi ke keluarga dan masyarakat adat. Siklusnya bisa terganggu.” Di situlah ia semakin yakin bahwa jalan yang ia jalani bukan kebetulan.

Selain menjalankan peran adat, Beldis juga terlibat dalam perjuangan yang lebih luas. Desa Saga menjadi salah satu anggota awal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), berangkat dari pengalaman pahit: wilayah adat mereka ditetapkan secara sepihak sebagai bagian dari kawasan konservasi.

Tanpa sosialisasi, tanpa persetujuan. Tiba-tiba sudah ada patok batas. Tiba-tiba sudah ada undang-undangnya, tapi masyarakat tidak pernah diberi tahu. "Situasi itu membuat masyarakat Saga merasa senasib dengan komunitas adat lain di seluruh Indonesia—yang sama-sama berjuang mempertahankan tanah warisan leluhur," ucap Beldis. .

Dari situlah keterlibatan mereka dalam gerakan adat tumbuh. Dan lagi-lagi, Beldis merasa terpanggil untuk ikut. Kini, ia memaknai seluruh perjalanan hidupnya sebagai rangkaian yang sudah digariskan. Sejauh apa pun ia pergi, ia selalu kembali. Dan di kampung itulah ia menemukan jawaban.

“Saya tidak pernah tenang di mana pun. Obat dari semua kegelisahan itu hanya satu—pulang ke kampung," ujarnya. Bagi Beldis, pulang bukan sekadar kembali ke tempat. Pulang adalah kembali pada identitas, pada leluhur, dan pada panggilan hidup yang tak bisa ditolak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....