Drama Kolosal Rama Sinta Meriahkan Halal Bihalal Paguyuban Arema di Natas Labar

  • 12 Apr 2026 22:46 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai – Denting gamelan menghadirkan keindahan akulturasi budaya yang ditampilkan Paguyuban Arema dan Arek Jawa Timur, kembali memukau masyarakat di Natas Labar, Manggarai, melalui pementasan sendratari kolosal Rama dan Sinta, Minggu, 12 April 2026. Pertunjukan ini tidak hanya menghadirkan ruang kebersamaan yang inklusif, tetapi juga mempertegas peran seni sebagai jembatan silaturahmi di tanah Congka Sae.

Berbeda dengan gelaran sebelumnya yang kerap identik dengan Tarian Bantengan dan Kuda Lumping yang energik, kali ini di atas rumput Natas Labar yang masih basah oleh sisa-sisa hujan, suasana terasa lebih hening, dalam dan emosional.

Kisah klasik epos Ramayana yang kaya akan nilai moral tersebut dipilih sebagai pembuka rangkaian Halal Bihalal, menghadirkan dimensi lain dari ekspresi seni yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyentuh penonton.

Kisah yang telah melintasi zaman ini tetap terasa hidup melalui setiap gerak tubuh para penari. Alur cerita mengalir tenang namun pasti, membawa penonton seolah menyusuri perjalanan tentang cinta, kesetiaan, keberanian dan pengorbanan.

Hery dan Maya, pasangan suami istri yang memerankan Rama dan Sinta, tampil bukan sekadar sebagai penari, melainkan sebagai penghidup cerita. Setiap tatapan dan liukan gerak keduanya menghadirkan kedalaman emosi yang seolah membuat sekat penonton pun menghilang.

Peran keduanya bukan hanya soal kemampuan menari, tetapi juga chemistry yang terpancar nyata. Harmoni itu membuat kisah Rama dan Sinta terasa lebih manusiawi, bukan sekadar legenda, melainkan cerita tentang cinta yang diuji waktu, pengorbanan, dan kesetiaan yang tak lekang oleh zaman.

Alur pun semakin memuncak. Ketegangan cerita meningkat saat sosok Rahwana yang diperankan Handyodo muncul di atas panggung dengan karakter antagonis itu hadir dengan aura kuat dan intimidatif. Konflik klasik ini kian menarik dengan kehadiran Seboh yang memerankan Hanoman, sang kera putih yang tampil lincah dan penuh energi.

Menariknya, pementasan kolosal ini tidak hanya melibatkan para penari dewasa, tetapi juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk turut serta mengambil peran. Keterlibatan generasi muda ini menjadi simbol keberlanjutan budaya agar nilai-nilai luhur dari tanah Jawa Timur tetap lestari meski berada jauh di Manggarai.

Saat pertunjukan mencapai puncaknya, tepuk tangan penonton pecah memenuhi ruang terbuka Natas Labar. Ada rasa haru yang menyelimuti suasana, seolah setiap orang yang hadir sedang melihat cermin tentang bagaimana budaya mampu bertahan, beradaptasi, dan menyatu dengan di bumi Nuca Lale tanpa harus kehilangan akarnya.

Pementasan yang dikemas apik ini mendapat apresiasi penuh dari Ketua Paguyuban, Misyanto, dan seluruh warga yang hadir. Melalui gerak tari dan drama, pesan tentang kesetiaan, perjuangan, dan kebaikan yang mengalahkan keburukan tersampaikan dengan lembut kepada masyarakat.

Drama kolosal ini membuktikan bahwa kehadiran Paguyuban Arema dan Arek Jawa Timur bukan sekadar tentang perkumpulan warga perantau, melainkan juga tentang upaya memperkaya khazanah budaya di kabupaten Manggarai melalui harmoni seni yang inklusif bagi semua kalangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....