Di Natas Labar, Dua Iman Berpelukan dalam Damai dan Toleransi

  • 03 Apr 2026 19:16 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai – Di jantung Kota Ruteng, Natas Labar Motang Rua tak lagi sekadar ruang relaksasi, tempat orang singgah dan melepas penat.

Kota yang dikenal dengan julukan “kota seribu gereja dan biara” ini bukan hanya menjadi pusat perayaan iman Katolik, tetapi juga ruang bersama bagi umat beragama lainnya.

Ruang yang sama, iman yang berbeda, namun menghadirkan satu pesan yang kuat: toleransi tidak hanya hidup, tetapi nyata dan tumbuh di Manggarai.

Bulan Maret lalu, tepatnya Sabtu (21/3/2026), Natas Labar menjelma menjadi ruang batin tempat doa dan harap bertemu dalam suasana hening dan penuh makna, saat umat Islam melaksanakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah.

Hamparan alun-alun pun berubah wajah. Ribuan umat Muslim hadir dalam balutan putih, melambangkan kesucian setelah sebulan menjalani ibadah Ramadan. Sajadah terbentang rapi, membentuk barisan yang tertib. Saat takbir berkumandang, udara dingin sejuk Manggarai seolah bergetar oleh gema pujian kepada Sang Khalik.

Doa-doa mengalir, menyatu dengan harapan akan ampunan dan keberkahan. Di sana, haru dan sukacita berpadu dalam satu tarikan napas kemenangan Idulfitri 1447 Hijriah.

Sejenak berselang, wajah Natas Labar kembali berubah. Pada Jumat 4 April 2026, ratusan ribu umat Kristiani dari berbagai paroki di Kota Ruteng memadati ruang yang sama. Di kejauhan, Gunung Ranaka dengan puncaknya yang tersaput kabut seolah menjadi menjadi latar hening, menjadikan Natas Labar sebagai panggung sunyi bagi kisah yang berbeda.

Balutan busana umat Katolik yang berwarna merah menjadi simbol darah dan pengorbanan. Dalam diam yang khidmat, umat mengikuti setiap adegan Tablo Jalan Salib. Langkah demi langkah, kisah sengsara Yesus Kristus dihadirkan kembali, bukan sebagai tontonan, melainkan sebagai ziarah batin batin.

Di tempat itu, penderitaan tidak hanya dikenang, tetapi dihayati; dan dari sana, harapan akan kebangkitan perlahan tumbuh. Natas Labar seakan menyimpan dua denyut yang berbeda, namun berdetak dalam irama yang sama.

Di satu sisi, takbir yang menggetarkan; di sisi lain, doa yang mengheningkan. Dua keyakinan, dua cara beribadah, namun satu tujuan: mendekat kepada Tuhan dan merawat kemanusiaan.

Di ruang terbuka itu, perbedaan tidak berdiri sebagai batas. Ia justru menjelma menjadi jembatan menghubungkan hati yang beragam dalam semangat persaudaraan. Warga Manggarai datang dari latar belakang yang berbeda, namun pulang dengan rasa yang sama: damai dan toleransi.

Lebih dari sekadar tempat, Natas Labar kini menjadi cermin wajah Manggarai yang sesungguhnya, sebuah ruang di mana toleransi tidak hanya diucapkan, tetapi dihidupi. Di sana, silaturahmi dipererat, saling menghormati dijaga, dan nilai gotong royong tetap berakar kuat.

Momen-momen seperti ini mengingatkan bahwa harmoni bukanlah sesuatu yang mustahil. Ia tumbuh dari kesadaran sederhana: bahwa di tengah perbedaan, siapapun dan apapun latar belakangnya tetap bisa hidup dan berjalan berdampingan.

Dan di Natas Labar, narasi toleransi terus ditulis, alurnya pelan, hening, namun penuh makna.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....