Menyalakan Cahaya Ilmu dari Flores: Jejak Intelektual Prof. Dr. Natsir B. Kotten
- 31 Mar 2026 12:22 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Di sebuah desa sederhana di Adonara Timur, Flores Timur, lahir seorang anak yang kelak menjadi pelita bagi dunia pendidikan di wilayah timur Indonesia. Ia adalah Natsir B. Kotten—sosok yang perjalanan hidupnya mencerminkan dedikasi panjang terhadap ilmu pengetahuan dan pembangunan manusia.
Lahir pada 21 Juni 1962 di Desa Terong, Waiwerang, Natsir tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sederhana. Sebagai anak ketiga dari lima bersaudara, ia belajar sejak dini tentang nilai kerja keras dan ketekunan. Sifat ramah dan kecintaannya pada pendidikan sudah terlihat sejak muda—sebuah karakter yang kelak menjadi fondasi kuat dalam perjalanan akademiknya.
Langkah awalnya dimulai di bangku kuliah saat ia menempuh pendidikan di Universitas Nusa Cendana Kupang dan meraih gelar sarjana pada tahun 1987. Namun, perjalanan intelektualnya tidak berhenti di sana. Ia melanjutkan studi Magister Manajemen Pendidikan di IKIP Negeri Malang (kini Universitas Negeri Malang) dan kemudian meraih gelar doktor pada tahun 2011 dari institusi yang sama.
Bagi Natsir, pendidikan bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan alat perubahan. Ia kembali ke Flores dengan tekad membangun kualitas pendidikan di daerahnya.
Karier akademiknya di Universitas Flores dimulai dari bawah. Ia meniti jenjang demi jenjang, Lektor Madya, Lektor Kepala, hingga akhirnya mencapai puncak tertinggi—Profesor atau Guru Besar pada 1 Januari 2026.
Pencapaian ini bukan sekadar prestasi pribadi. Ia mencatat sejarah sebagai Guru Besar pertama di Universitas Flores—sebuah tonggak penting bagi institusi dan dunia pendidikan di Nusa Tenggara Timur.
Sebagai dosen, Natsir dikenal bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga penggerak. Ia aktif dalam penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan budaya akademik. Baginya, kampus harus hidup—tidak hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang berpikir dan mencipta solusi.
Perannya semakin luas ketika ia dipercaya menjadi Wakil Rektor I bidang akademik dalam beberapa periode (2001–2004, 2006–2008, dan 2012–2016). Dalam posisi tersebut, ia mendorong peningkatan kualitas dosen, memperkuat tradisi riset, serta menumbuhkan budaya publikasi ilmiah di lingkungan kampus.
Di tangannya, Universitas Flores tidak hanya berkembang sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai pusat intelektual yang mulai diperhitungkan. Sebagai putra daerah, Natsir memiliki keyakinan kuat: kemajuan daerah harus dimulai dari pendidikan. Ia melihat perguruan tinggi sebagai motor penggerak perubahan sosial, ekonomi, dan budaya.
Ia terus mendorong agar kampus tidak terisolasi dari masyarakat. Baginya, ilmu pengetahuan harus hadir untuk menjawab persoalan nyata—dari kemiskinan hingga penguatan identitas budaya lokal. Visi ini menjadikannya bukan hanya akademisi, tetapi juga pemikir pendidikan yang berpihak pada kemajuan daerah.
Kisah hidup Natsir B. Kotten adalah bukti bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk mencapai puncak keilmuan. Dari Flores, ia menunjukkan bahwa daerah juga mampu melahirkan tokoh intelektual yang berpengaruh.
Lebih dari sekadar profesor, ia adalah simbol kebangkitan intelektual dari timur Indonesia—seorang pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi. Di tengah tantangan pendidikan di daerah, sosok seperti Natsir menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil—dan dari satu orang yang percaya pada kekuatan ilmu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....