Ramadan di Perantauan, Rindu Husain Tertahan Pekerjaan

  • 19 Mar 2026 16:23 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende — Ramadan di perantauan menyisakan cerita sunyi yang tak selalu tampak di permukaan. Bagi Husain, seorang pekerja yang tetap berdinas, bulan suci justru menjadi ruang panjang untuk merawat rindu hingga Idul Fitri tiba.

Di tempat ia bekerja, sahur dan berbuka dijalani dalam suasana sederhana yang jauh berbeda dari kebiasaan di kampung halaman. Tidak ada hidangan buatan ibu maupun suasana hangat keluarga yang biasanya mengisi waktu makan.

“Menjalani Ramadan jauh dari keluarga rasanya tentu berbeda. Ada rasa sepi karena tidak bisa berbuka bersama atau sahur dengan suasana rumah seperti dulu. Itu yang paling terasa dirindukan,” ujar Husain, Kamis 19 Maret 2026.

Kesunyian itu paling terasa saat waktu berbuka tiba. Momen yang biasanya dipenuhi kebersamaan kini berubah menjadi lebih hening dan personal. Untuk mengatasi rasa tersebut, Husain berusaha tetap menjaga komunikasi dengan keluarganya. Ia memanfaatkan waktu luang untuk sekadar bertukar kabar.

“Kadang saat sahur atau setelah berbuka saya menelepon keluarga. Walaupun tidak bisa duduk satu meja, setidaknya masih bisa merasakan kebersamaan lewat cerita,” katanya.

Selain itu, ia juga mencoba menciptakan suasana Ramadan di perantauan agar tetap terasa hidup. Salah satunya dengan berbuka bersama rekan kerja atau orang di sekitarnya.

“Dengan berbuka bersama teman, suasana jadi sedikit lebih hangat. Saya juga mencoba menikmati Ramadan apa adanya, sambil yakin kalau suatu saat bisa kembali merasakan Ramadan di kampung,” ujarnya.

Meski demikian, momen Idul Fitri bersama keluarga tetap menjadi hal yang paling ia rindukan setiap tahun. Kenangan itu terus terbayang, terutama tradisi yang selalu dilakukan bersama.

“Yang paling saya kangen itu setelah salat Id, makan ketupat dan opor buatan mama, lalu saling bersalaman dan keliling ke rumah saudara,” ucapnya.

Ia juga mengaku merindukan hal-hal sederhana yang justru memiliki makna mendalam saat Lebaran tiba.

“Ada satu rumah yang selalu menyediakan pecel dan tempe mendoan. Itu sederhana, tapi selalu saya tunggu setiap Lebaran,” katanya sambil tersenyum.

Tahun ini, Husain harus mengikhlaskan diri untuk tidak pulang ke kampung halaman. Pekerjaan membuatnya tetap berada di perantauan saat momen Idul Fitri. Meski begitu, ia tetap menyampaikan pesan dan harapan untuk keluarganya di kampung.

“Saya berharap keluarga selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan. Walaupun tidak bisa berkumpul, semoga kebersamaan tetap terasa walau hanya lewat komunikasi,” ucapnya.

Bagi Husain, Idul Fitri bukan hanya soal pulang kampung, tetapi tentang menjaga hubungan dan saling memaafkan.

“Lebaran itu bukan sekadar berkumpul, tapi juga tentang mempererat silaturahmi. Semoga momen ini tetap jadi waktu untuk saling memaafkan, meski ada yang hanya bisa menyampaikan doa dari jauh,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....