Menembus Batas: Kisah Anansia Sienna Raih Beasiswa ke Amerika

  • 13 Mar 2026 21:54 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai – Bagi sebagian anak muda di Manggarai raya, belajar di luar negeri mungkin terdengar seperti mimpi yang jauh. Namun bagi Anansia Siena, mimpi itu perlahan menjadi kenyataan melalui perjuangan panjang, ketekunan, dan keberanian untuk mencoba.

Ketertarikannya untuk belajar di luar negeri tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah. Saat itu ia menempuh pendidikan di sekolah swasta St. Klaus Werang di Kabupaten Manggarai Barat.

Hampir setiap minggu, sekolahnya menerima kunjungan para donatur dari Swiss yang datang untuk melihat langsung perkembangan para siswa. Dari pertemuan-pertemuan itulah, muncul rasa ingin tahu dan keinginan besar dalam dirinya untuk suatu hari bisa belajar di luar negeri. Setiap minggu itu, pasti selalu ada para donatur yang datang dari Swiss berkunjung ke sekolah dan semenjak saat itu ketertarikan saya untuk belajar diluar negeri semakin menjadi - jadi," ujar Anansia Sienna saat diwawancarai RRI SP Labuan Bajo, dalam program Zona Edukasi, Kamis 5 Maret 2026 yang lalu.

Namun mimpi itu tidak datang dengan jalan yang mudah. Berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, ia tidak memiliki kesempatan mengikuti kursus bahasa Inggris secara formal. Di kampung halamannya pun fasilitas belajar bahasa asing sangat terbatas. Kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia memilih belajar secara mandiri atau autodidak, memanfaatkan berbagai sumber yang bisa diakses sendiri.

Perjuangannya berlanjut ketika ia memasuki bangku universitas. Di sana ia mulai mengenal berbagai program beasiswa, tidak hanya untuk jenjang studi magister, tetapi juga program pertukaran dan studi singkat di luar negeri. Program-program tersebut biasanya berlangsung selama satu hingga empat minggu dan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar di berbagai universitas di dunia.

Kesempatan demi kesempatan pun mulai ia coba. Ia berkali-kali mendaftar berbagai program beasiswa, tetapi hasilnya belum memuaskan. Penolakan demi penolakan sempat ia terima. Hingga suatu ketika, ia menemukan program dari pemerintah Amerika Serikat yang terbuka bagi anak muda di kawasan Asia Tenggara, yaitu Young Southeast Asian Leaders Initiative Academic Fellowship Program (YSEALI Academic Fellowship Program).

Program tersebut memberikan kesempatan kepada pemuda dari negara-negara ASEAN untuk belajar, berdiskusi, serta mengembangkan gagasan kontribusi bagi daerah asal mereka. Ia mulai melamar sejak semester tiga kuliah, tetapi berkali-kali pula tetap gagal.

Barulah pada tahun 2022, setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, sebuah email yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Ia dinyatakan lolos seleksi program tersebut. Namun di saat yang sama, ia juga sedang mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang memiliki jadwal perkuliahan padat.

Ia sempat mencoba meminta izin kepada pihak kampus agar dapat mengikuti program tersebut. Namun karena masa perkuliahan yang singkat dan padat, izin itu tidak dapat diberikan. "Saya coba meminta izin kepada pihak universitas di tempat rencana saya kuliah saat itu tapi tidak mendapatkan izinkan Karena perkuliahannya lumayan singkat jadi kalau izin saya akan ketinggalan banyak hal terutama berbagai mata kuliah," katanya.

Ia dihadapkan pada pilihan sulit antara melanjutkan kuliah profesi atau mengambil kesempatan belajar di luar negeri yang telah lama diimpikan. Kesempatan itu akhirnya terlewatkan.

Meski demikian, ia tidak berhenti mencoba. Setahun kemudian, pada 2023, karena usianya masih memenuhi persyaratan program, ia kembali mengajukan lamaran.

Usahanya kali ini membuahkan hasil. Ia kembali menerima email yang menyatakan dirinya lolos seleksi. Melalui program tersebut, ia mendapat kesempatan mengikuti program pembelajaran selama sekitar lima minggu di sebuah universitas di kota Omaha, Amerika Serikat.

Pengalaman itu menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Ia percaya bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang bagi siapa pun untuk meraih kesempatan belajar ke luar negeri.

Menurutnya, yang paling penting adalah keberanian untuk mencari informasi dan mencoba. Banyak program beasiswa yang sebenarnya terbuka luas bagi anak muda Indonesia, tetapi tidak semua orang berani melamar atau mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi.

Bagi para mahasiswa yang ingin belajar di luar negeri, ia juga mengingatkan pentingnya memiliki tujuan yang jelas. Belajar di luar negeri, menurutnya, bukan sekadar perjalanan atau pengalaman baru, tetapi kesempatan untuk memperluas wawasan dan membawa manfaat bagi daerah asal.

Dari sebuah kampung di Manggarai hingga ruang kelas di Amerika Serikat, perjalanan Anansia Siena menjadi pengingat bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat yang sederhana, selama ada keberanian untuk mencoba dan ketekunan untuk terus melangkah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....