Ramadan dan Doa di Ujung Dermaga

  • 24 Feb 2026 08:52 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende — Langit di ufuk timur masih gelap ketika Muhamad Alfian menambatkan perahunya di bibir pantai Pulau Ende. Di kejauhan, lampu-lampu Kota Ende berkelip redup, sementara jarum jam baru menunjuk pukul empat subuh waktu yang setia menjadi awal harinya.

“Nelayan biasa, hari-hari di laut. Sejak 2020 sudah di laut terus cari nafkah,” ujarnya pelan, memecah sunyi dini hari.

Bagi Alfian, hidup adalah rangkaian rutinitas panjang yang tak banyak berubah. Berangkat saat sebagian orang masih terlelap, menantang gelombang, lalu pulang dengan hasil tangkapan yang tak pernah bisa dipastikan. Laut menjadi satu-satunya sandaran untuk menghidupi istri tercinta di rumah.

Namun awal tahun selalu menghadirkan tantangan berbeda. Musim barat yang datang dari Januari hingga April membawa angin kencang dan gelombang tinggi, membuat laut lebih ganas dari biasanya. Risiko melaut meningkat, sementara hasil tangkapan justru kerap menurun.

“Pendapatan agak kurang juga kalau musim begini. Jadi kita harus pintar-pintar mencukupkan,” katanya.

Di tengah ketidakpastian itu, Ramadan hadir sebagai jeda. Alfian memilih lebih sering menepi, menghabiskan waktu di kampung. Perahunya dibersihkan, jaring-jaring diperbaiki, dan sore hari diisi dengan obrolan ringan bersama sesama nelayan di ujung dermaga.

Di tempat itulah doa-doa dilangitkan. Mereka berharap laut kembali tenang, angin tak lagi galak, dan rezeki tetap mengalir meski tak selalu melimpah.

“Kalau untuk pribadi, perhatian pemerintah belum ada. Tapi bagi saya, hidup itu tentang mencukup-cukupkan saja,” ucapnya, tanpa nada mengeluh.

Saat azan magrib berkumandang di Pulau Ende, Alfian sudah berada di darat. Ia berbuka dengan sederhana, namun penuh rasa cukup. Di antara desir angin dan debur ombak yang perlahan mereda, ia percaya setelah angin barat berlalu, laut akan kembali bersahabat, dan harapan pun kembali berlayar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....