Tiga Dekade Ubi Keladi Markus Meno di Pasar Wolowona

  • 13 Feb 2026 14:28 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Pagi baru saja merekah di Pasar Wolowona, Kabupaten Ende. Di antara riuh suara tawar-menawar dan derap langkah para pembeli, seorang pria paruh baya tampak setia di sudut lapaknya. Di hadapannya tersusun rapi ubi keladi dengan tanah yang masih menempel tipis di kulitnya. Dialah Markus Meno, pedagang yang sudah hampir tiga dekade menjajakan hasil bumi sederhana itu.

Bagi Markus, Pasar Wolowona bukan sekadar tempat berdagang. Di sanalah perjalanan hidupnya ditempa. Ia memulai usaha ini saat masih lajang. Kini, rambutnya mulai memutih dan ia telah memiliki cucu. Waktu berjalan, tetapi lapak ubi keladinya tetap setia berdiri.

Pria asal Desa Tumberabu Satu, Kampung Mbengo itu mengaku telah berjualan lebih dari 30 tahun. Ubi keladi menjadi sumber penghidupan utama bagi keluarganya. Dari hasil jualan itulah ia membiayai kebutuhan rumah tangga, menyekolahkan anak, hingga menopang kehidupan sehari-hari.

“Kadang ramai, kadang juga sepi. Sama saja. Tapi tetap kita jual untuk cari makan,” ujarnya, Jumat 13 Februari 2026, sembari melayani pembeli.

Menjelang bulan puasa umat Muslim, suasana pasar terkadang lebih hidup. Namun, bagi Markus, perbedaan itu tak selalu signifikan. Ada hari-hari ketika dagangannya cepat habis, ada pula saat ia harus membawa pulang sisa jualan. Ia menerima semuanya dengan tenang. Baginya, yang terpenting adalah tetap berusaha.

Ubi keladi dipilihnya bukan tanpa alasan. Komoditas itu relatif mudah didapat. Ia membeli dari petani, lalu menjual kembali dengan keuntungan yang tidak seberapa. Meski kecil, hasilnya cukup untuk menyambung hidup. Menurutnya, lebih baik berjualan di pasar daripada tinggal di kampung tanpa penghasilan pasti.

Di balik kesederhanaan itu, ada tantangan yang tak ringan. Modal menjadi kendala utama. Untuk membeli stok ubi keladi, Markus terkadang harus meminjam uang dari koperasi. Risiko tetap ada—jika dagangan sepi, ia harus memutar otak agar tetap bisa mengembalikan pinjaman.

Namun, lelaki itu tak banyak mengeluh. Ia percaya rezeki selalu ada bagi mereka yang mau bekerja. Harapannya sederhana: pembeli tetap datang, terutama menjelang bulan puasa. Semakin banyak yang membeli, semakin besar pula berkah yang dirasakan.

Di tengah perubahan zaman dan geliat ekonomi yang tak selalu menentu, Markus Meno memilih bertahan. Ubi keladi mungkin terlihat biasa di mata banyak orang. Tetapi bagi Markus, dari umbi sederhana itulah kehidupan tumbuh, mengakar, dan terus berbuah selama tiga dekade di Pasar Wolowona.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....