Ketika Pers Bercermin, Nurani Rakyat Ikut Menilai

  • 10 Feb 2026 14:03 WIB
  •  Ende

RRI. CO.ID, Ende - Senin, 9 Februari 2026, Aula Marilonga RRI Ende pagi itu terasa berbeda. Bukan sekadar ruang siaran atau tempat berkumpul, melainkan ruang batin tempat pers diajak berhenti sejenak, menurunkan ego, lalu bercermin pada dirinya sendiri.

Tak ada gegap gempita seremoni. Tak ada pesta kata-kata kosong. Yang ada justru suasana hening yang jujur, sebuah perenungan kolektif: masihkah pers setia pada rakyat, atau sekadar ikut berisik di tengah banjir informasi digital?

Dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, Persatuan Wartawan Ende (PAWE) memilih jalan yang tak lazim. Mereka tak merayakan profesi dengan panggung kemeriahan, melainkan dengan kritik dan refleksi.

Talk show bertajuk “Apa Kata Mereka tentang Pers” menjadi ruang uji nurani itu. Dipandu presenter sekaligus reporter senior, Rosa Dalima, diskusi mengalir hangat namun tajam. 

Suaranya yang tenang menata percakapan, menghadirkan narasumber dari beragam latar, pemerintah, DPRD, akademisi, LSM, aparat penegak hukum, hingga konten kreator dalam satu meja yang setara. Tak ada jarak,  tak ada sekat, semua bicara tentang satu hal: masa depan jurnalisme lokal.

Disiarkan langsung melalui RRI Pro 1 Ende dan kanal YouTube RRI Ende, forum itu juga diikuti pelajar, mahasiswa, dan organisasi kepemudaan. Pesannya jelas: kualitas pers bukan urusan internal media semata. Ia milik publik.

Di zaman ketika hoaks berlari lebih cepat daripada klarifikasi, ketika sensasi sering mengalahkan verifikasi, PAWE seperti menarik rem darurat. Mengingatkan kembali bahwa jurnalisme bukan perlombaan siapa paling cepat, melainkan siapa paling benar.

Anggota DPRD Ende, Ferdinandus Watu, S.Fil, berbicara lugas tanpa basa-basi. Katanya, pers jangan puas hanya menjadi penyampai peristiwa.

“Kalau cuma menyampaikan apa yang terjadi, semua orang bisa. Tapi mencerahkan, itu kerja pers,” ujarnya.

Ia bahkan merumuskan ulang PAWE sebagai filosofi kerja:

Pencerah berbasis data dan fakta.

Aksi lewat keberpihakan sosial.

Warga sebagai orientasi utama.

Etika sebagai fondasi.

Empat huruf, empat kompas moral. “Tanpa keberpihakan pada publik, pers pelan-pelan kehilangan legitimasi,” ucapnya.

Dari kampus, Rektor Universitas Flores, Dr. Willybrodus Lanamana, melihat pers sebagai penjaga akal sehat masyarakat. Jika jurnalis merawat etika jurnalistik, maka kampus merawat etika ilmiah.

“Supaya kebijakan publik lahir dari pengetahuan, bukan sekadar opini,” katanya.

Riset, menurut Willy, jangan hanya berdebu di rak. Ia harus hidup di halaman media, dibaca, diperdebatkan, dimengerti.

Sementara itu, suara dari masyarakat sipil datang lebih lirih namun menohok. Direktur Yayasan Tananua, Bernadus Sambut, mengingatkan bahwa ukuran keberpihakan pers bukan pada seberapa sering meliput pejabat, melainkan seberapa sering mendengar yang tak bersuara.

“Petani, warga pinggiran, kelompok rentan, kalau mereka hilang dari berita, pers kehilangan rohnya,” katanya.

Kalimat itu menggantung lama di ruangan. Seperti doa sunyi yang pelan-pelan menegur hati setiap orang yang mendengarnya.

Di tengah perbincangan yang serius dan penuh gagasan, konten kreator Tuteh Pharmantara menghadirkan sudut pandang berbeda. Ia menyampaikan analogi segar yang membuat diskusi terasa lebih hidup dan mudah dipahami.

“Pers itu seperti makanan berkemasan. Jelas komposisi dan standarnya. Sementara banyak konten digital dibuat tanpa verifikasi,” ujarnya.

Pesannya sederhana, tapi krusial: saring before sharingSebab satu kabar palsu bisa meruntuhkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.

Namun refleksi HPN tak berhenti di forum diskusi. PAWE turun langsung ke masyarakat. Mereka mendatangi rumah-rumah warga miskin, membawa bantuan, mendengar cerita, menyentuh realitas. 

Mereka juga berziarah ke makam wartawan senior,merawat ingatan, menghormati jejak, meneguhkan etika. Seolah ingin berkata: pers bukan hanya soal menulis, tapi soal hadir.

Momentum itu diperkuat dengan peluncuran Podcast PAWE oleh Ketua PAWE, Dedy Wolo, tanda bahwa wartawan Ende tak menolak zaman, melainkan beradaptasi tanpa kehilangan nurani. Ketua Panitia HPN 2026, Frid Kondradus Siga, menegaskan seluruh rangkaian kegiatan memang bukan pesta tahunan.

“Ini ruang refleksi. Masa depan pers ditentukan oleh profesionalisme, etika, dan keberpihakan pada masyarakat,” ujarnya.

Dan hari itu, di Ende, pers seperti diingatkan kembali pada tugasnya yang paling sunyi namun paling mulia. Tugas itu sederhana, tetapi berat: menjaga kebenaran tetap hidup di tengah riuhnya informasi.

Karena pada akhirnya, pers bukan tentang siapa paling cepat berbicara. Melainkan siapa paling berani membela yang lemah dan tetap jujur pada nuraninya sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....