Di Rumah Seng Yosef, Wartawan Menangis
- 06 Feb 2026 15:24 WIB
- Ende
RRI. CO. ID, Ende - Dari pusat Kota Ende, langkah kaki hanya butuh hitungan menit menuju Nua Wawo, Kelurahan Onekore. Jalan raya masih riuh oleh kendaraan dan debu siang.
Orang-orang bergegas dengan urusan masing-masing. Namun di balik keramaian itu, tersembunyi sebuah pondok kecil berdinding seng karat, nyaris tak menarik perhatian, seolah sengaja dilupakan waktu.
Di situlah Yosef Nai tinggal. Rumah itu lebih tepat disebut tempat berteduh.
Seng-seng tua menjadi dinding, beberapa menganga seperti luka lama. Angin bebas keluar masuk. Lantainya tanah, lembap ketika hujan dan berdebu saat kemarau.
Tak ada kamar mandi. Tak ada sumur. Tak ada sumber air bersih. Hanya tungku kecil berjelaga di sudut ruangan, tempat asap kayu bakar menari pelan setiap pagi.
Namun bagi Yosef, istrinya Tias Sri Wahyuni, serta dua anak mereka, Samuel (4) dan Fransiska (2) ruang sempit itulah dunia mereka. Di situlah mereka makan, tertawa, bertengkar kecil, lalu berdamai lagi. Di situlah kata rumah tumbuh dengan segala keterbatasannya.
Setiap hari, Yosef keluar sejak pagi, mencari pekerjaan apa saja yang bisa ia kerjakan. Kadang membantu tukang bangunan, kadang mengangkat pasir, kadang hanya menunggu panggilan yang tak kunjung datang. Dalam seminggu, penghasilannya rata-rata sekitar Rp200 ribu. Jumlah itu harus cukup untuk empat perut kecil.
“Yang penting anak-anak makan dulu,” katanya lirih, dengan senyum yang lebih mirip ketabahan.
Untuk air bersih, Tias berjalan kaki ratusan meter menuju patahan pipa milik Pemda. Ember di tangan, sesekali menggendong anak. Air itulah yang dipakai untuk minum, memasak, dan mandi. Perjalanan itu ia tempuh hampir setiap hari, di bawah terik atau mendung, tanpa banyak keluhan.
Empat tahun sudah keluarga kecil itu bertahan. Jika hujan turun, tetesan air merembes dari sela seng. Mereka memindahkan tikar, mencari sudut paling kering untuk tidur. Malam-malam panjang dilalui dengan sederhana, ditemani suara angin dan napas anak-anak yang terlelap.
Hingga Jumat siang, 6 Februari 2026, suasana pondok itu tak lagi sama. Langkah-langkah kaki mendekat. Sejumlah orang datang berombongan menyusuri jalan kecil.
Mereka membawa tas, kamera, dan beberapa paket sembako. Rombongan Persatuan Wartawan Ende (PAWE) siang itu sengaja berkunjung, dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional.
Yosef menyambut mereka dengan senyum canggung namun ramah. Anak-anaknya bersembunyi di balik kaki ibunya, mengintip dengan rasa ingin tahu.
Saat para wartawan melangkah masuk, ruangan sempit itu mendadak sunyi. Tatapan mereka berkeliling: lantai tanah, seng berlubang, dapur seadanya, pakaian tergantung di paku berkarat.
Tak ada yang mewah. Tak ada yang disembunyikan. Hanya kenyataan.
Beberapa jurnalis terdiam. Seseorang menarik napas panjang. Yang lain menunduk, menyeka mata. Pemandangan itu terasa lebih kuat dari kalimat berita mana pun.
Ketua PAWE, Dedi Wolo, tak mampu menutupi harunya. Suaranya pelan ketika berbicara.
“Pers harus punya empati dan keberpihakan pada kemanusiaan. Kami ingin hadir langsung, melihat, dan berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Hari itu mereka tak hanya membawa kamera dan catatan. Mereka datang dengan beras, mie instan, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya. Bantuan sederhana, namun cukup membuat dapur Yosef bisa mengepul beberapa hari ke depan.
Tias menerima sembako itu dengan tangan gemetar. Ucapan terima kasihnya berulang kali terucap pelan. Matanya basah, tapi senyumnya tak hilang.
Di pondok seng itu, tak ada pidato panjang. Hanya percakapan hangat dan rasa peduli yang terasa nyata.
Siang perlahan merambat, matahari tepat di atas kepala ketika rombongan pamit. Yosef berdiri di depan rumahnya, melambaikan tangan. Senyum tipis masih mengembang di wajahnya, senyum orang kecil yang jarang meminta, tapi selalu bersyukur.
Barangkali hidupnya belum berubah hari itu. Dinding seng itu masih rapuh. Air masih harus ditimba jauh. Pekerjaan masih tak menentu.
Namun setidaknya, ia tahu, ada yang datang mengetuk pintunya, mendengar ceritanya, dan memeluknya dengan empati.
Dan bagi para wartawan, kunjungan itu menjadi pengingat sunyi: kadang berita tak cukup hanya ditulis dari meja redaksi. Ia harus disentuh, dilihat dari dekat, bahkan dirasakan sampai membuat mata basah.
Karena di rumah seng milik Yosef, kemiskinan bukan sekadar data. Ia bernapas, ia hidup, dan siang itu ia membuat para wartawan menangis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....