Elang Flores, Penjaga Sunyi Hutan Kelimutu

  • 29 Jan 2026 12:27 WIB
  •  Ende

RRI. CO. ID, Ende - Di pagi yang berkabut di sekitar Taman Nasional Kelimutu, hutan tampak tenang. Namun bagi sebagian warga, ketenangan itu menyimpan kegelisahan. Salah satunya tentang Elang Flores (Nisaetus floris), burung pemangsa endemik Nusa Tenggara yang kini kian jarang terlihat.

Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Kelimutu mengakui, burung ini dulu masih kerap terlihat bertengger di pepohonan tinggi atau melayang di atas hutan. Kini, kemunculannya menjadi peristiwa langka yang hanya sesekali diceritakan dari mulut ke mulut.

Salah seorang warga Desa Moni, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Markus, menuturkan bahwa pada masa lalu Elang Flores masih mudah dijumpai. Burung pemangsa endemik itu kerap terlihat saat warga beraktivitas dan berkebun di sekitar kawasan hutan.

“Dulu kami sering lihat elang besar terbang rendah atau diam di pohon-pohon tinggi. Sekarang sudah jarang sekali. Kadang hanya dengar cerita dari orang lain,” ujarnya.

Kelangkaan itu sejalan dengan data konservasi. Berdasarkan berbagai hasil penelitian dan catatan pengelola kawasan konservasi, populasi Elang Flores diperkirakan kurang dari 100 pasang, atau sekitar 100 hingga 240 individu di alam liar.

Spesies ini berstatus Kritis (Critically Endangered) dan termasuk salah satu burung pemangsa paling terancam punah di dunia. Taman Nasional Kelimutu menjadi salah satu habitat penting Elang Flores.

Kawasan hutan pegunungan dengan vegetasi lebat menyediakan ruang hidup, sumber pakan, sekaligus tempat bersarang bagi raptor endemik ini. Namun tekanan terhadap habitat, seperti alih fungsi lahan, aktivitas manusia di sekitar hutan, serta perburuan satwa liar, diduga turut mempersempit ruang hidupnya.

Sebagai pemangsa puncak, Elang Flores memiliki peran penting menjaga keseimbangan ekosistem. Keberadaannya menjadi indikator sehat atau tidaknya kondisi hutan. Ketika Elang Flores mulai menghilang, itu menandakan ada masalah serius dalam rantai kehidupan di kawasan hutan.

Warga berharap, upaya perlindungan kawasan hutan dan satwa endemik dapat terus diperkuat. Tidak hanya oleh pengelola taman nasional, tetapi juga dengan melibatkan masyarakat sekitar sebagai penjaga pertama hutan.

“Kami berharap anak cucu nanti masih bisa lihat elang ini terbang di Kelimutu, bukan hanya dengar cerita,” kata Markus.

Elang Flores kini seakan menjadi penjaga sunyi hutan Kelimutu hadir, namun kian jarang terlihat. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan, bukan hanya bagi satwa liar, tetapi juga bagi manusia yang hidup berdampingan dengannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....