Melawan Ombak, Warga Pesisir Selatan Tetap Bertahan

  • 13 Jan 2026 13:20 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Dari Bitta Beach, Ende, laut pagi itu tampak relatif bersahabat. Angin berembus pelan, ombak bergulung tidak terlalu tinggi. Di titik inilah liputan kami dimulai, menyaksikan motor laut bersiap mengantar penumpang menuju kampung-kampung di pesisir selatan. Sekilas, perjalanan ini terlihat biasa. Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai perahu mendekati tujuan.

Di Desa Kekasewa, Wolokota, hingga Nila, yang berada di pesisir selatan Kabupaten Ende, laut bukan sekadar jalur transportasi. Ia adalah satu-satunya jalan hidup. Tidak ada dermaga, tidak ada pantai landai. Perahu hanya bisa mendekat ke tebing curam berbatu, tempat ombak memantul keras dan tak pernah benar-benar jinak.

Saat motor laut merapat, penumpang harus menunggu momen yang tepat. Begitu ombak sedikit surut, mereka melompat dari perahu ke celah-celah batu, berpacu dengan gelombang berikutnya. Anak-anak digendong, barang diangkat tinggi-tinggi, sementara orang tua dibantu turun perlahan. Semua dilakukan dengan hitungan detik.

Satu kesalahan kecil bisa berujung cedera serius. Dalam kondisi terburuk, nyawa pun dapat melayang akibat ganasnya ombak dan tajamnya bebatuan.

“Kalau ombak besar, kami tunggu lebih lama. Tidak bisa sembarang turun,” ujar Francisco Severius, warga asli Kekasewa yang hari itu hendak pulang kampung.

Ia mengaku, setiap perjalanan laut selalu diiringi rasa cemas. Perasaan itu kian kuat ketika musim angin barat mulai terasa dan gelombang menjadi tidak menentu.

“Sebagai orang Kekasewa, jantung ini tetap berdebar. Tapi mau bagaimana lagi, ini satu-satunya jalan,” katanya kepada RRI, Selasa, (13/1/2026).

Ketergantungan pada jalur laut bukan tanpa alasan. Akses darat menuju kampung belum sepenuhnya tembus dan belum layak. Jalan rabat beton yang ada masih sempit, licin, dan berbahaya, terutama saat hujan. Sebagian jalur bahkan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki selama berjam-jam. Bagi warga, laut tetap menjadi pilihan meski risikonya besar.

Kondisi ini tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga para pelayan gereja. Pastor Paroki Wolotopo, RD. Emil Galle, menjadi salah satu saksi langsung beratnya medan pelayanan di wilayah pesisir selatan. Untuk menjangkau umat di Stasi Kekasewa dan Wolokota, ia harus menyesuaikan perjalanan dengan cuaca dan kondisi laut.

“Kalau ada peringatan cuaca atau laut tidak bersahabat, kami terpaksa mencari jalur darat meskipun medannya berat dan berisiko,” ujar Romo Emil.

Ia menyebut, medan pelayanan di wilayah selatan menuntut kesiapan fisik, mental, dan keberanian, baik bagi pastor maupun umat. Menurutnya, persoalan transportasi bukan sekadar soal jarak, tetapi soal keselamatan dan keadilan pembangunan. Ketiadaan dermaga membuat setiap perjalanan laut menjadi pertaruhan, terutama bagi anak-anak dan lanjut usia.

“Naik turun perahu di tebing batu seperti ini jelas sangat berisiko,” ujarnya.

Harapan akan perubahan terus disematkan warga. Francisco berharap pemerintah dapat melanjutkan pembangunan jalan hingga benar-benar masuk ke kampung.

“Kalau jalan bisa tembus dan layak, kami tidak harus selalu melawan ombak,” katanya.

Di pesisir selatan Ende, laut bukan hanya hamparan biru. Ia adalah saksi perjuangan harian warga tentang bertahan di tengah keterbatasan, tentang melompat di antara ombak dan batu demi pulang ke rumah, dan tentang harapan sederhana akan akses yang lebih manusiawi.

Selama dermaga belum berdiri dan jalan belum tembus, warga pesisir selatan akan terus melawan ombak. Bukan karena mereka ingin, tetapi karena itulah satu-satunya cara untuk tetap hidup di tanah yang mereka cintai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....